Amerika Serikat Akan Buat Acara Peresmian Kedubes Diwilayah Yerusalem

Be Sociable, Share!
Amerika Serikat Akan Buat Acara Peresmian Kedubes Diwilayah Yerusalem

Amerika Serikat Akan Buat Acara Peresmian Kedubes Diwilayah Yerusalem. Negeri paman sam tersebyut rencananya akan menggelar acara di Yerusalem pada tanggal 14 Mei 2018. Acara tersebut di rencanakan untuk peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. Acara akan berlangsung pada pukul 16.00 waktu setempat.

Duta Besar Amerika  untuk Israel David Friedman, dikabarkan sudah mulai mengirimkan undangan ke berbagai pihak.

Nantinya delegasi Amerika Serikat yang terdiri dari 250 orang dijadwalkan akan menghadiri upacara peresmian kedutaan besar tersebut. Selain itu nantinya seluruh elemen pemerintah Israel akan berpartisipasi dalam menyambut para delegasi Amerika Serikat.

Dalam laporannya Walla mengatakan, belum jelas apakah Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan hadir acara tersebut atau tidak.

Namun, situs memastikan bahwa Ivanka Trump dan suaminya yang berdarah Yahudi, Jared Kushner, masuk dalam daftar delegasi Amerika Serikat yang akan menghadiri acara tersebut.

Walla juga menyebut. polisi Israel mulai mempersiapkan acara yang akan berlangsung di Arnona, Yerusalem. Diketahui Pembangunan jalan tengah dipercepat untuk meningkatkan akses ke kedutaan nantinya.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat juga nantinya akan segera membangun tembok setinggi tiga meter di sekitar kedutaan baru untuk meningkatkan keamanan.

Menteri Keuangan Israel Moshe Kahlon mengumumkan bahwa ia telah mengeluarkan surat perintah untuk membebaskan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari izin pembangunan tembok, demi mempercepat penyelesaian proyek tersebut.

Diketahui sebelumnya, Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk  Israel berlokasi di wilayah Tel Aviv. Dan nantinya akan dipindahkan ke Yerusalem yang masih menjadi sengketa antara Palestina dengan Israel.

Keputusan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sangat bertentangan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang sudah berjalan selama tujuh dekade.

Selama tujuh dekade, Amerika Serikat bersama dengan hampir seluruh negara lainnya, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak Israel mendeklarasikan pendiriannya pada Tahun 1948.

Sementara, menurut Donald Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa seluruh pihak tidak mendekati dengan kesepakatan damai antara Israel-Palestina

Keputusan Donald Trump telah meruntuhkan status Negeri Paman Sam sebagai mediator perdamaian antara kedua negara, mengingat status Yerusalem sebagai ibu kota tak hanya diakui oleh Israel, namun juga Palestina.

Palestina mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka di masa depan dan hal ini mendapat dukungan dari masyarakat internasional.

Dari sisi Amerika Serikat, berdasarkan Jerusalem Embassy Act of 1995, produk hukum yang disahkan pada 23 Oktober 1995. Washington harus memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem.

Selama ini, tuntutan hukum tersebut berhasil “dihindari” sejak disahkan. Mulai dari Presiden Bill Clinton, Bush Jr, hingga Barack Obama, semuanya menolak untuk memindahkan kedutaan ke Yerusalem. Pertimbangan mereka adalah keamanan nasional AS.

Bagian dari kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat yang akan diresmikan di Yerusalem berada di tanah yang disengketakan antara Yerusalem Timur dan Barat. Israel mengambilalih wilayah tersebut dalam perang 1967. Oleh karena itu, kawasan tersebut dianggap wilayah pendudukan oleh PBB.

Terkait hal tersebut, Amerika Serikat bergantung pada fakta bahwa Israel dan Yordania membagi wilayah kantong yang diperebutkan tersebut secara tidak resmi.

Kelak, ketika Amerika Serikat meresmikan pembukaan kedutaan besarnya di Yerusalem, pada saat bersamaan Palestina memeringati Hari Nakba atau Hari Kehancuran. Pada hari itu, digelar peringatan tahunan atas pengusiran bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya Israel pada tahun 1948.

detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!