Ancaman Nyata Dari Rezim Kim Jong Un

Be Sociable, Share!

Uji coba rudal balistik antarbenua yang tengah dilakukan oleh Korea Utara secara teori menunjukkan kemampuan militer negara tersebut untuk menyerang negara – negara yang jauh dari negaranya seperti Amerika Serikat dan bahkan Australia. Seharusnya hal ini menjadi perhatian bagi negara – negara yang bersebrangan dengan rezim Kim Jong Un. Sebagai pemimpin Korea Utara, ia memegang penuh kendali atas militer negaranya.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa negara – negara yang memusuhi Korea Utara sepatutnya khawatir.

Korea Utara Selalu Menguji Rudal Balistik Dan Senjata Nuklir

Korea Utara secara resmi mulai memproduksi dan menguji coba rudal sejak masa kepemimpinan Kim Il-sung, yang merupakan kakek dari Kim Jong-un, pada tahun 1984. Uji coba itu kemudian dilanjutkan oleh Kim Jong-il, anak dari Kim Il-sung dan ayah Kim Jong Un.

Dibandingkan kedua pendahulunya, Kim Jong Um telah menguji lebih banyak rudal daripada ayah dan kakeknya. Kim Il-sung telah melakukan uji coba sebanyak 15 rudal, 11 di antaranya adalah rudal balistik jarak pendek (SRBM) Scud-Bs dan Scud-Cs dengan jangkauan maksimum 500 kilometer. Sementara yang lainnya adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM), Nodong dengan jangkauan maksimum sekitar 1.500 km.

Setelah Kim Il-sung meninggal pada tahun 1994, anaknya mengambil alih dan menguji 16 rudal lainnya. Rezim tersebut melompat maju dengan menguji kendaraan peluncuran luar angkasa (SLV). Pada tahun 1998, Korea Utara menguji kendaraan pertamanya, yakni roket Taepedong-1 yang gagal saat terbang di atas Jepang, yang menimbulkan insiden diplomatik. Insiden tersebut menyebabkan adanya moratorium pengujian. Kim Jong-il berhenti menguji coba SLV lain pada 2006 dan Taepedong-2 yang juga gagal. Sebanyak 7 SRBM dan 6 MRBM juga diuji selama masa jabatannya. Rezim tersebut juga menguji bom atom pertamanya di tahun 2006, diikuti oleh yang lain pada tahun 2009. Kedua uji coba itu mendapat kecaman internasional.

Ketika Kim Jong-il meninggal pada tahun 2011, putra ketiganya, Kim Jong Un, mengambil alih. Di bawah Kim Jong Un, 85 rudal telah diuji.

Kemajuan Pesat Dalam Teknologi Militer

Pendahulu Kim Jong Un umumnya hanya menguji SRBM dan MRBM, yang hanya mampu menyerang tetangga terdekat. Namun sejak 2012, rezim Kim Jong Un telah memperluas persenjataannya menjadi rudal balistik jarak menengah (IRBM) yang lebih jauh dan rudal balistik antarbenua (ICBM). Rezim tersebut juga berusaha mengembangkan kapasitas untuk meluncurkan rudal dari kapal selam (SLBM).

IRBM umumnya memiliki jangkauan maksimum 4.500 km. Namun dari tes rudal ICBM yang dilakukan pada tahun 2017 ini, Korea Utara memiliki rudal yang diperkirakan memiliki jangkauan antara 8.500 – 10.000 km. Jarak ini cukup untuk menyerang daratan Amerika bahkan Australia.

Rezim ini juga telah menguji 4 bom atom lagi untuk meningkatkan daya sejak 2012 lalu. Kekuatan bom atom milik Korea Utara saat ini bahkan jauh lebih besar dari bom atom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima dan Nagasaki selama Perang Dunia II.

Persiapan Dalam Menghadapi Perang

Tidak hanya jumlah uji coba yang bertambah, jumlah situs uji coba pun ikut bertambah. Pada masa rezim Kim Il-sung, Korea Utara hanya menggunakan 2 lokasi uji untuk melakukan pengujian. Sebagian besar uji coba terjadi di Lapangan Peluncuran Satelit Tonghae. Di bawah Kim Jong-il, 13 dari 16 uji coba dilakukan di Pangkalan Militer Kittaeryong, dengan tiga lainnya di Tonghae. Namun Kim Jong Un saat ini memiliki berbagai lokasi uji coba di seluruh negeri dan sudah tidak menggunakan Tonghae sebagai lokasi uji coba. Menurut Prakarsa Ancaman Nuklir, ini merupakan pergeseran dramatis dari pengembangan rudal ke pelatihan operasional. Hal ini menjadi bukti bahwa rezim tersebut melatih tentaranya untuk kemungkinan perang nuklir.

Namun di tengah kekhawatiran akibat aktivitas rudal Korea Utara, ada hal yang dapat menjadi penghibur kecil, khususnya bagi musuhnya yang berada jauh dari negara tersebut. Ternyata, meskipun uji coba rudal secara keseluruhan semakin sukses selama bertahun-tahun, namun rudal jarak pendek Korea Utara jauh lebih baik dibandingkan dengan jarak yang lebih jauh. Sejak Kim Jong Un mulai berkuasa, varian rudal yang lebih tua dengan teknologi dasar yang dikembangkan pendahulunya, jauh lebih berhasil dalam uji coba dibandingkan dengan rudal jarak jauh yang lebih baru yang dikembangkan di masa jabatannya.

Pada uji coba terakhir pada tanggal 15 September lalu, rudal yang diluncurkan diperkirakan dapat menjangkau daratan Amerika maupun Australia, meskipun belum diuji secara luas. Kecepatan dan antusiasme pengujian rudal ini menunjukkan bahwa tidak lama lagi, dunia harus menghadapi Korea Utara yang memiliki senjata nuklir yang bisa menyerang kemana saja.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!