Inilah Bahayanya Melakukan Skip Challange

Be Sociable, Share!

Inilah Bahayanya Melakukan Skip Challange

Dunia sosial media mulai ramai dengan sebuah video yang bertajuk ‘Skip Challenge’. Video viral ini mengundang banyak remaja untuk mencoba aksi yang terbilang menggugah adrenalin.

Cukup menahan napas dengan dada dipukul oleh orang lain, orang tersebut merasakan pingsan sesaat. Melihat fenomena yang beredar, dr Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, angkat bicara mengenai soal ini.

“Ini isu baru dan anak-anak kadang-kadang punya inovasi yang aneh-aneh. Padahal otak kita dalam waktu 8 detik tidak mendapatkan oksigen, bisa terjadi kerusakan pada sel-sel otaknya,” jelas dr Eni di Gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/217).

Kalangan remaja yang melakukan permainan ini menganggapnya sebagai tantangan Seperti Mati Suri yang menyenangkan, Mereka pun kemudian menguploud rekaman Skip Challenge ke media sosial hingga menjadi viral.

Hal senada juga disampaikan Dr Nick Flynn dari Union Quay, Medical Centre, Cork, Irlandia. Dia mengingatkan risiko kejang, kerusakan otak yang berdampak kematian bagi mereka yang melakukan skip challenge atau pass-out game atau choking game.

“Tantangan ini sama saja  menghentikan otot dada bekerja dan Anda tidak bisa mendapatkan oksigen ke otak. Otak kemudian kekurangan oksigen dan korbannya kehilangan kesadaran, ” kata dia.

Bahkan sebuah studi melaporkan ada 82 kasus permainan skipchallange yang bisa menyebabkan kematian dan kegiatan ini dilakukan oleh anak berusia 6 sampai 19 tahun, yang 87 persen nya adalah laki-laki.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemendikbud Sukiman meminta sekolah segera mengambil langkah inisiatif terhadap maraknya fenomena skip challange atau pass out challange di kalangan remaja. Sebab, permainan tersebut dinilai membahayakan kesehatan anak-anak remaja yang memainkannya.

”Sekolah tidak harus menunggu imbauan, karena sekolah tahu mana yang bahaya mana yang tidak. Tapi prinsipnya ini jangan dilakukan,” kata Sukiman, saat dihubungi, Jumat (10/3).

Anak juga perlu mendapatkan pengertian baik dari pihak sekolah maupun orangtuanya. Meskipun anak menghabiskan waktunya di sekolah, Sukiman menegaskan bukan berarti orangtua menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Harus tetap ada.

Baca juga berita terkini lainnya di Detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!