Bank Persediaan Bibit Dunia, Svalbard Global Seed Vault

Be Sociable, Share!

Bumi bisa mengalami kiamat setiap saat baik dengan peringatan maupun tanpa peringatan terlebih dahulu. Bumi bisa saja mengalami kiamat akibat perang, wabah penyakit maupun berbagai sebab lainnya. Untuk menghadapi Doomsday, para ilmuwan mendirikan sebuah pusat penyimpanan bibit – bibit terbaik dari seluruh penjuru bumi. Tempat ini bernama Svalbard Global Seed Vault.

Svalbard Global Seed Vault ini dibangun di bawah tanah, 130 m di bawah permukaan laut, disebuah tundra beku sekitar 1.200 km dari Kutub Utara, di Samudera Arktik dimana suhu lokasi kubah ini berada dibawah titik beku. Kubah ini pertama kali dibuka pada 26 Februari 2008 sebagai bank gen dari seluruh dunia untuk menyimpan materi genetika terpenting di dunia apabila terjadi bencana pada bumi ini.

Untuk memasuki tempat penyimpanan, pengunjung harus melewati empat pintu dengan tingkat keamanan tinggi. Mulai dari pintu masuk, kemudian pintu kedua di kedalaman 115 meter dan dua pintu dengan pengunci udara. Bibit – bibit unggul dari seluruh penjuru dunia disimpan di ruang – ruang penyimpanan dengan temperatur yang dijaga dalam kondisi tetap -18° Celcius.

Beberapa waktu yang lalu, Svalbard Global Seed Vault menerima 50.000 sampel bibit tanaman dari seluruh dunia. Sampel – sampel ini berasal dari bank gen di Benin, India, Pakistan, Lebanon, Moroko, Belanda, Amerika Serikat, Meksiko, Bosnia dan Herzegovina, Belarus, dan Inggris. Kubah penyimpanan ini sesungguhnya mampu menampung sampai 4,5 juta bibit dari seluruh dunia. 15.000 sampel yang diterima oleh Svalbard merupakan sampel yang telah dimodifikasi oleh International Center for Agricultural Research in the Dry Areas (ICARDA) atau Pusat Riset Pertanian Internasional di Area Kering. ICARDA merupakan organisasi yang secara khusus melakukan riset pertanian di daerah kering dimana sumber daya air sangat minim.

Penarikan dari Svalbard pertama kali dilakukan oleh ICARDA pada tahun 2015, untuk dibawa ke Suriah setelah bank gen di Aleppo kehilangan beberapa koleksi material tanamannya akibat perang dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Spesimen tanaman yang diambil antara lain padi, kentang, dan gandum. Menurut Kepala Pusat Riset Pertanian Internasional, Aly Abou-Sabaa, tanaman – tanaman tersebut berhasil ditumbuhkan di daerah kering.

 

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!