Berikut Tiga Pesan KPK Perihal Terbentuknya Pansus Hak Angket

Be Sociable, Share!

Berikut Tiga Pesan KPK Perihal Terbentuknya Pansus Hak Angket

Agun Gunandjar, selaku Politikus Partai Golkar akhirnya resmi terpilih menjadi ketua Pansus. Pimpinan Panitia Khusus (Pansus), dibentuk untuk hak angket terhadap KPK. Terbentuknya pansus itu pun langsung ditanggapi oleh pihak KPK. Dan KPK juga sudah memiliki 3 pesan penting dalam menanggapi hal tersebut.

“Untuk hak angket, kami dengar dan baca beberapa informasi bahwa sudah dibentuk struktur pansus hak angket dan ketua pansus hak angket sudah ditunjuk. Tentu saja pemberitahuan secara resmi, KPK belum menerima hal tersebut. Sampai sejauh ini KPK masih terus melakukan pembahasan dalam tahap finalisasi tentu saja kita sudah undang sejumlah ahli. Kita juga sudah lakukan diskusi terkait dengan keberadaan dan sikap apa yang dapat dilakukan oleh KPK secara hukum, ” ungkap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (07/06/2017).

Pesan pertama yang disampaikan KPK adalah mengenai pengawasan yang disambut baik. Pada dasarnya KPK tidak mempermasalahkan pengawasan terhadap lembaga antirasuah itu. Asalkan sesuai dengan aturan yang sudah berlaku.

“Pertama, KPK menegaskan bahwa KPK sangat senang diawasi oleh berbagai pihak. Baik oleh masyarakat ataupun oleh mitra kerja KPK di DPR, ” ucap Febri.

Pesan yang kedua adalah terkait aturan yang sudah berlaku perihal hak angket. Menurut KPK, pembentukan pansus angket KPK saat ini masih terdapat celah hukum.

“Kedua, mematuhi aturan hukum yang berlaku, khususnya tentang MD3 tersebut, kami ingin pastikan misalnya apakah benar di Pasal 79 dalam UU, KPK tidak masuk dalam domain hak angket. Lalu proses pengambilan keputusan yang menurut kami masih banyak hal yang harus dipertanyakan di sana,” kata Febri.

“Apalagi MKD sekarang sedang melakukan proses juga untuk melihat apakah laporan dari masyarakat terkait indikasi pelanggaran etik dalam ketuk palu hak angket tersebut itu bisa dibuktikan atau tidak,” tambah Febri.

Pesan yang terakhir atau yang ketiga adalah tentang susunan pansus angket. Yang menurut KPK belum terdiri dari seluruh fraksi yang ada di DPR. Padahal menurut aturan, pansus angket tidak bisa dibentuk apabila seluruh fraksi tidak dilibatkan.

“Ketiga, kami juga ingin menyampaikan bahwa sesuai dengan Pasal 201 UU MD3, susunan pansus hak angket harus terdiri dari seluruh unsur fraksi, sehingga kalau hingga saat ini masih ada dua fraksi yang tidak mengirimkan anggotanya tentu saja ada pertanyaan yang serius apakah pansus hak angket ini DPR itu sah atau tidak secara hukum,” jelas Febri.

Febri mengatakan KPK tentunya akan mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia. Namun apabila ada panggilan dari pansus angket, KPK belum menentukan sikap lantaran masih ada indikasi celah hukum terkait terbentuknya pansus angket itu. Baca lainnya hanya di detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!