BNPB : Korban Meninggal Tsunami Selat Sunda Mencapai 431 Jiwa

Be Sociable, Share!
BNPB :  Korban Meninggal Tsunami Selat Sunda Mencapai 431 Jiwa

BNPB : Korban Meninggal Tsunami Selat Sunda Mencapai 431 Jiwa. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan jumlah korban yang meninggal akibat tsunami Selat Sunda mencapai 431 orang. Menurutnya Jumlah ini diperkirakan terus bertambah.

“Tim pencarian dan pertolongan gabungan terus mencari korban yang berada di bawah puing-puing material hanyutan tsunami,” ujar Sutopo

Sutopo mengatakan, tim pencarian dan pertolongan gabungan masih terus menemukan jenazah korban tsunami Selat Sunda di sekitar pantai di Pandeglang dan Serang.

Dari data yang di dapat, Sekitar 15 orang juga dilaporkan masih hilang akibat tsunami Selat Sunda. Sementara 7.200 orang lainnya mengalami luka-luka dan 46.646 orang mengungsi di berbagai tempat yang tersebar.

Sementara itu, tsunami di Selat Sunda juga menyebabkan kerusakan terhadap sejumlah sarana dan prasarana, yaitu 1.527 rumah rusak berat, 70 rumah rusak sedang dan 181 rumah rusak ringan.Selain itu, 78 penginapan,puluhan warung, 434 perahu serta beberapa fasilitas umum lainnya yang juga mengalami kerusakan.

Dirinya menyebut Penanganan pengungsi terus dilakukan dengan mengirimkan bantuan logistik ke posko posko. Tiga helikopter BNPB hilir mudik mengirim bantuan ke beberapa desa di Kecamatan Sumur, Pandeglang

Tsunami Selat Sunda yang diduga akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terjadi pada malam Saptu. Tsunami tersebut mengakibatkan kerusakan yang sangat besar di Lima kabupaten di dua provinsi. Pandeglang, Serang, Pesawaran dan Tanggamus di Provinsi Banten maupun Lampung Selatan

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo menyatakan bahwa potensi bahaya dari anak gunung Krakatau saat ini sangat kecil untuk memicu tsunami di Selat Sunda.

“Letusan bertipe surtseyan karena kawah Gunung Anak Krakatau posisi dekat dengan permukaan laut sehingga magma yang keluar bersentuhan dengan air laut. Letusan surtseyan posisi di permukaan sehingga potensi sangat kecil untuk memicu tsunami,” ujar Purbo

BNPB : Korban Meninggal Tsunami Selat Sunda Mencapai 431 Jiwa

Purbo menyebut berdasar pengamatan pada hari Jumat 28 Desember 2018. Gunung Anak Krakatau mengalami penyusutan dari tingginya 338 mdpl menjadi hanya sekitar 110 mdpl. Dengan sisa volume tubuh Gunung Anak Krakatau yang hanya sekitar 40-70 juta m3, jadi potensi kecil untuk longosoran besar

Jadi Potensi bahaya dari aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau dengan kondisi saat ini menurun, yang paling memungkinkan adalah letusan-letusan Surtseyan. Dikarenakan Letusan jenis ini terjadi di permukaan air laut, meskipun banyak menghasilkan abu, tapi tidak akan memicu tsunami.

“Potensi bahaya lontaran material lava pijar masih ada. Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar. Maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil. Kecuali ada reaktivasi struktur patahan/sesar yang ada di Selat Sunda,” ucapnya

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 28 Desember 2018. Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga). Dihimbau masyarakat menyiapkan masker untuk mengantisipasi jika terjadi hujan abu.

“Sehubungan dengan status Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah, Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang serta jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami,” ujarnya

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!