Faktor Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS

Lima Faktor Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS

Kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 sangat mengejutkan dunia. Karena selama berbulan-bulan berlangsungnya masa kampanye nyaris seluruh lembaga survei menunjukkan, Hillary akan memimpin perolehan suara dan melenggang ke Gedung Putih.

Sehingga banyak yang bertanya-tanya apa yang menjadi faktor kemenangan Donald Trump sehingga ia mampu meraup dukungan rakyat AS. Padahal ia belum teruji, baik sebagai politisi maupun birokrat.

Donald Trump tidak pernah memegang jabatan publik dan tak punya pengalaman sebagai politikus.

Terus bagaimana pengusaha New York ini bisa memenangkan pilpres? Berikut lima hal yang mengantarkan nya ke Gedung Putih.

1. Gelombang Putih

Suara di NEgara bagian Ohio, Florida dan North Carolina semuanya mengarah ke Donald Trump.

Apa maknanya?

Trump menang setelah berhasil mengamankan suara warga kulit putih dalam setiap demografis kecuali perempuan berpendidikan tinggi. Ia berhasil mendapatkan dukungan tersebut dengan memanfaatkan kecemasan mereka.

Kelas pekerja berkulit putih, terutama yang tidak mengenyam pendidikan universitas, beramai-ramai meinggalkan Demokrat dan memilih calon Republik.

Mereka yang tinggal di pedesaan menggunakan suara abtara lain bertujuan suara mereka didengar. Mereka inilah yang selama ini merasa ditinggal oleh kalangan mapan.

Keltika Clinton kalah di Wisconsin, harapannya untuk menjadi presiden sebenarnya sudah hilang.

2. Cerdas Memanfaatkan Media

Dari sekian banyak alasan tulisan itu dimuat, salah satu yang paling menonjol adalah kelihaian Donald Trump memanfaatkan media. Hal tersebut tak mengejutkan mengingat ia memiliki latar belakang yang panjang dalam dunia pertelevisian dan hiburan.

Ia tahu persis harus menyampaikan apa untuk membuat penonton jengkel. Dan secara naluriah ia juga tahu bagaimana cara menarik perhatian mereka. Setiap kali lawannya mulai mendominasi pemberitaan, ia akan melemparkan granat retoris, membuat kamera kembali mengarah kepada dirinya.

Trump memahami dengan baik sebuah pepatah lama, “bahwa tak ada publisitas yang buruk”. Dia tahu bahkan ketika para pengamat muncul di TV mengecam kebijakannya, namun para penonton akan setia mendengarkan retorika-retorikanya.

Memang faktanya, saat ini kebanyakan orang lebih mudah mengingat bahkan menjelaskan kebijakan Trump dibanding Hillary. Nyaris semua media menginginkan Trump ‘jatuh’, namun tanpa mereka sadari mereka telah membentuk Trump menjadi orang paling berkuasa di muka bumi.

3. Terlena Hasil Survei

Sejak pertengahan Juli 2016, hampir seluruh survei ‘memenangkan’ kubu Hillary. Bahkan ada prediksi Demokrat akan merebut kembali dominasi di DPR dan Senat. Hal ini disebut-sebut membuat Demokrat berada di atas angin.

Hillary bahkan dikabarkan melewatkan kampanyenya di negara-negara ‘Blue State’–negara pendukung Demokrat. Dia tak menghabiskan banyak waktu untuk berjuang di negara-negara kunci dan swing state serta menganggap semua wilayah itu sudah ‘dikantonginya’.

4. Solusi Untuk Masyarakat

Isu terorisme adalah alasan utama di balik kemenangan Trump. Ini bukan soal ekonomi dan imigrasi.

Terorisme di sini diartikan sebagai terorisme terkait Islam. Dan ketika Trump melemparkan wacana larangan masuk bagi warga muslim, itu seolah menjadi solusi bagi rakyat AS.

Sama halnya ketika ia bicara soal ISIS, China, kejahatan dan imigrasi. Dalam setiap kasus, Trump menawarkan kebijakan sederhana, namun ‘merespons’ secara nyata kekhawatiran masyarakat.

5. Percaya Insting

Kampanye Trump jelas bukan kampanye biasa dan hasil pilpres memperlihatkan ia lebih paham dari para pakar politik.

Kampanyenya sebenarnya kalah rapi dari tim Clinton. Anggaran kampanyenya juga lebih sedikit.
Tak sedikit yang mengecam cara-cara kampanyenya tapi Trump dan timnya tak peduli.
Sekarang, Trump dan orang-orang terdekatnya, bisa tersenyum lebar.

Itulah lima faktor kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS, untuk membaca berita terkini lainnya klik Detiktribun 

error: Content is protected !!