INCAR SOSIAL MEDIA DAN PONSEL PARA PENDATANG BARU

Be Sociable, Share!

INCAR SOSIAL MEDIA DAN PONSEL PARA PENDATANG BARU

Donald Trump incar sosial media dan ponsel para pendatang. Perintah eksekutif (executive order) Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait imigrasi dan pengungsi memicu kekacauan, kebingungan, juga gelombang protes.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah sumber kepada CNN mengatakan, direktur kebijakan Gedung Putih. Stephen Miller mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat dari Departemen Luar Negeri. Patroli Bea Cukai dan Perbatasan (Customs and Border Patrol), dan Departemen Keamanan Dalam Negeri, serta lembaga lainnya.

Kepada para pejabat, ia mengatakan bahwa Donald Trump sangat berkomitmen terhadap perintah eksekutif yang dikeluarkannya. Miller juga meminta pejabat untuk tak terdistraksi dengan apa yang ia deskripsikan sebagai ‘suara-suara histeria’ di televisi. Miller juga menyebut, pada hari Sabtu, pejabat pemerintahan Trump membahas kemungkinan meminta pengunjung asing untuk mengungkapkan semua situs web dan situs media sosial yang mereka kunjungi.

Tak sampai di situ, mereka juga diminta mengungkap daftar kontak yang disimpan di ponsel mereka. Jika pengunjung asing menolak memberikan informasi tersebut, ia bisa saja ditolak masuk Amerika Serikat. Sejumlah sumber mengatakan bahwa hal itu masih dalam tahapan diskusi awal — belum akan dilaksanakan.

Postingan media sosial yang berisi ajakan ‘jihad’ oleh pelaku serangan teror San Bernardino Tashfeen Malik — yang dibuat dengan nama samaran dan pengaturan privasi yang ketat — adalah bagian dari diskusi tersebut. Larangan itu berdampak pada mereka yang berpaspor Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Juga pemengang Green Card yang mendapat otorisasi untuk bekerja dan tinggal di AS.

Yegani, yang bekerja untuk American Immigration Lawyers Association (Alia), mengatakan ia dan rekan-rekan pengacaranya telah bekerja sepanjang malam untuk membebaskan orang-orang dengan visa sah yang ditahan sebelum memasuki AS atau memerintahkan kembali penerbangan ke negara-negara mayoritas Muslim yang berada dalam daftar larangan itu.
Dalam satu insiden seorang mahasiswa PhD asal Sudan yang kuliah di Stanford University di California, yang telah tinggal di AS selama 22 tahun.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!