Indonesia Tidak Perlu Takut Dengan Hutang

Be Sociable, Share!

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa negara tidak perlu takut berhutang dari berbagai pihak. Menurutnya, hutang yang dikelola dengan baik akan menjadi solusi untuk beberapa permasalahan di Indonesia. Namun ia juga menyampaikan bahwa pengelolaan dana dari pinjaman ini harus benar – benar diawasi agar tidak disalahgunakan hingga melenceng dari tujuan sebenarnya.

Hutang merupakan salah satu instrumen yang tidak bisa terpisahkan dari suatu negara. Sri Mulyani menekankan bahwa hutang harus dikelola dengan hati-hati. Setiap penggunaannya harus dengan tujuan yang jelas dan diawasi dengan hati – hati. Dengan demikian, hutang bisa menjadi solusi dalam berbagai masalah.

Namun bukan berarti bahwa kita harus terus berhutang untuk mendapatkan solusi. Pinjaman yang akan ditanggung negara selalu dibandingkan dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Negara (APBN). Sri Mulyani telah memberikan penjelasan mengenai kondisi keuangan negara yang saat ini dapat dikatakan sehat dan memungkinkan untuk berhutang.

Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani memastikan bahwa pinjaman yang telah ditanggung oleh negara telah melewati berbagai macam pertimbangan. Dan dipastikan bahwa pemakaiannya digunakan secara produktif dan diawasi dengan ketat. Dari 192 negara di dunia, hampir seluruhnya memiliki hutang, terkecuali dua negara kecil dengan julukan tax heaven atau pusat perjudian.

Pengajar ekonomi Universitas Pertamina, Eka Puspitawati, mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih dibebani oleh ‘warisan’ dari pemerintahan yang sebelumnya. Sehingga, pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah saat ini sebagian besar digunakan untuk membayar bunga dari pinjaman sebelumnya. Indonesia hingga kini masih bergelut dengan utang warisan dari pemerintahan sebelumnya.

Menurut Eka, struktur hutang luar negeri Indonesia saat ini, 69 – 70 % nya masih digunakan untuk membayar hutang masa lalu. Hanya sekitar 30 – 31 % yang digunakan untuk ke depan. Memang saat ini rasio hutang terhadap PDB yang berada pada angka 27 % masih lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Pada 2006, rasio ini mencapai 46%. Terburuk adalah pada tahun 1998, dimana Presiden Soeharto diberhentikan. Saat itu rasio hutang terhadap PDB mencapai 57 %. Pembengkakan itu terjadi karena kurs US dollar yang melonjak tajam.

Dibanding negara lain, rasio hutang Indonesia terhadap PDB relatif kecil. Negara lain seperti Jepang misalnya, memiliki rasio perbandingan sebesar 250 %. Sementara itu, Prancis dan Inggris memiliki rasio perbandingan lebih dari 89 %.

Meski rasio utang Indonesia relatif kecil, Indonesia termasuk rentan dibandingkan negara – negara maju, terutama di sektor finansial. Pada krisis ekonomi yang lalu, Indonesia sangat mudah digoncang oleh seorang spekulan bernama George Soros. Hal tersebut mengakibatkan nilai mata uang anjlok dan hutang Indonesia semakin tinggi sehingga terjadi defisit yang luar biasa.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, Arif Budimanta, mengatakan fokus perencanaan fiskal untuk 2018 adalah agar APBN makin sehat dan ekonomi makin kuat. Defisit yang terjadi harus dijaga sebaik – baiknya agar tidak membengkak dan tambahan utang dipastikan hanya digunakan untuk hal-hal yang produktif.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!