Iran Tidak Sepakat Dengan Revisi JCPOA

Be Sociable, Share!
Iran Tidak Sepakat Dengan Revisi JCPOA

Iran Tidak Sepakat Dengan Revisi JCPOA. Kepala Badan Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi menyampaikan  bahwa negaranya akan kembali melakukan atau  meningkatkan pengayaan uranium yang biasanya di gunakan sebagai bahan baku senjata nuklir.

Menurutnya jika Amerika Serikat tidak mematuhi atau mengundurkan diri dari Kesepakatan Nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Nantinya iran akan melakukan pengayaan uranium

“Kami tak sekadar menggertak Secara teknis, kami siap untuk melakukan pengayaan uranium lagi, bahkan hingga ke level kualitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebelum Iran menyetujui kesepakatan (JCPOA) itu,” kata Ali Akbar Salehi

Pemerintah Iran masih berharap kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mematuhi sesuai kesepakatan yang tertera terhadap kesepakatan JCPOA

“Oleh karena itu, kami berharap agar (Presiden Amerika Serikat) Donald Trump tetap berpikir waras dan tetap bertahan dalam kesepakatan (JCPOA),” kata Salehi.

Penyataan tersebut  datang di tengah tensi  rencana Presiden Donald Trump yang hendak menarik Amerika Serikat keluar dari pakta Kesepakatan Nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action

Joint Comprehensive Plan of Action atau Iran nuclear deal merupakan proses  kesepakatan antara Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB (China, Prancis, Rusia, Inggris, AS) plus Jerman dan Uni Eropa.

Menurut perjanjian pakta itu, Iran dituntut untuk mengurangi stok uranium yang merupakan bahan baku pembuat nuklir hingga 98 persen. Dan  berhenti menjalankan program pengembangan senjata nuklir yang nantinya Kepatuhan Iran akan ditukar dengan pencabutan sanksi dari para negara penanda tangan.

Nantinya setiap 90 hari, para anggota JCPOA wajib memberikan”sertifikasi kepatuhan terhadap Iran. Hingga kini  tenggat waktu terdekat adalah pada 12 Mei 2018 yang sebagian besar negara anggota telah memberikan sertifikasi itu. Namun, Amerika Serikat masih belum melakukannya.

Presiden  Amerika Serikat Donald Trump itu menganggap bahwa pakta tersebut tidak adil dan tidak bisa diterima. Ia juga memandang skeptis kalau Iran benar-benar menanggalkan program pengembangan senjata nuklirnya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menyampaikan hal serupa, kecuali jika JCPOA direvisi kembali sesuai dengan keinginan Washington.

“Berkenaan dengan JCPOA, Presiden Trump telah menyatakan sangat jelas. Perjanjian itu cacat. Ia telah mengarahkan pemerintah untuk berupaya memperbaikinya, dan apabila kami tidak dapat memperbaikinya, ia akan mundur dari perjanjian tersebut. Ini sangat lugas,” ucap Mike Pompeo.

Apabila nantinya Presiden Donald Trump tidak memberikan sertifikasi kepatuhan terhadap Iran mengenai perjanjian nuklir tersebut pada 12 Mei. Amerika Serikat dapat memberlakukan lagi sanksi-sanksi terhadap Negeri Para Mullah.

kata Menlu Iran, Javad Zarif, menyampaikan bahwa Iran tetap tidak sepakat dengan usulan untuk merevisi JCPOA, menyebutnya sebagai sebuah sikap unilateral sekaligus tak menghargai prinsip kesepakatan internasional.

“Selain tidak menghormati kewajibannya sendiri dan semua komitmennya, Trump menetapkan persyaratan baru terhadap Joint Comprehensive Plan of Action yang dinilai tidak proporsional, yang tidak dapat diterima sama sekali bagi rakyat Iran,” Ucap Javad Zarif.

Sementara itu, negara penanda tangan JCPOA lain,  Inggris dan Prancis mengimbau agar AS tetap menegakkan pakta Kesepakatan Nuklir Iran.

detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!