Kekecewaan Jendral Gatot Akibat Gagal Bertemu Jendral Dunford

Be Sociable, Share!

Jendral TNI Gatot Nurmantyo terlihat kecewa lantaran tidak dapat memenuhi undangan senior sekaligus sahabatnya, Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat Jendral Joseph F Dunford Jr. Jendral Gatot dimintanya hadir secara langsung oleh Jendral Dunford untuk menghadiri acara Chief of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) di Washington, DC, pada 23-24 Oktober 2017 lalu. Rencananya, Panglima TNI akan memberikan masukan soal pertahanan negara dan strategi dalam menghadapi kelompok ekstrimis kepada sejumlah panglima angkatan bersenjata dari 43 negara lainnya.

Namun, Gatot Nurmantyo bersama istrinya, Enny Trimurti, serta enam perwira tinggi dan menengah lainnya ditolak masuk AS Karena alasan protokol dari US Customs and Border Protection, ketika akan menumpang pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK-0357 dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu, 21 Oktober 2017 lalu.

Jendral Dunford pun tampaknya kecewa lantaran Jendral Gatot tidak dapat hadir ke AS. Ia juga telah menuliskan surat permintaan maaf atas ketidaknyamanan itu kepada Gatot. Panglima TNI pun membalas surat sahabatnya itu. Bahkan ia menuangkan permintaan maaf Dunford dalam cuitan di akun Twitter-nya, @PanglimaGatot, pada Rabu lalu.

Jendral TNI Gatot Nurmantyo merupakan pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960. Ia menjabat Panglima TNI sejak 8 Juli 2015. Sejak lulus Akabri pada tahun 1982, Karier militernya dihabiskan di kesatuan Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad). Gatot juga pernah menjabat sejumlah posisi militer strategis, yaitu sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 2014 – 2015 dan juga sebagai Panglima Kostrad pada 2013 – 2014.

Sementara itu, koleganya, Jendral Joseph F. Dunford, berasal dari Massachusetts, Boston, lahir pada 8 Desember 1955. Jendral Joseph, yang berasal dari Korps Marinir, pernah memimpin penugasan militer di sejumlah negara, di antaranya Afganistan dan Irak. Ia menjadi Kepala Staf Gabungan militer AS sejak 2015. Jabatan ini merupakan jabatan tertinggi di militer AS, setara dengan Panglima TNI.

Ini bukan pertama kalinya seorang Jendral Indonesia ditolak masuk ke Amerika Serikat. Mantan Panglima TNI Jendral (Purnawirawan) Wiranto pun pernah ditolak masuk ke AS pada tahun 2004 lalu. Jendral Wiranto ditolak masuk karena dianggap sebagai orang yang sangat bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1999. Pada 2011, permohonan visa Jendral (Purnawirawan) Pramono Edhie Wibowo juga ditolak oleh Kedutaan Amerika dengan alasan yang sama.

Di tahun 2012, Letjen (Purnawirawan) Prabowo Subianto juga sempat diembargo oleh AS. Ia diduga terlibat dalam mengobarkan kerusuhan Mei 1998. Ia juga diduga terlibat penculikan sejumlah aktivis HAM dan percobaan kudeta setelah Soeharto lengser pada 1998. Letjen (Purnawirawan) Sjafrie Sjamsoeddin juga pernah tidak diizinkan masuk ke AS saat mendampingi Presiden SBY pada 2014 karena diduga terkait kasus pelanggaran HAM di Timor Leste dan kasus kerusuhan Mei 1998.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!