Tewaskan Bandar Narkoba, Pangkat Kompol Dd Ditunda

Be Sociable, Share!

Tewaskan Bandar Narkoba, Pangkat Kompol Dd Ditunda

Kasus Noviandi, sang terduga narkoba tewas tertembak, penyelidikan dugaan pelanggaran pidana dan dugaan pelanggaran disiplin Polri terus berjalan Sampai hari ini, 15 orang diperiksa tim khusus Polresta Samarinda. Kenaikan pangkat seorang anggota BNN Kalimantan Timur, Kompol Dd, terpaksa ditunda terkait masalah itu.

Lima belas yang terperiksa itu, 13 di antaranya adalah anggota BNN Kalimantan Timur. Sedangkan 2 orang terperiksa lainnya petugas medis dari RSUD AW Syachranie Samarinda. Penyelidikan mulai mengerucut kepada seorang anggota BNN Kalimantan Timur.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Eriadi mengatakan jumlahnya bisa berkembang lagi tergantung dari kehadiran saksi-saksi yang berada di lokasi saat kejadian. Selasa (3/1).

Eriadi menerangkan, mengacu kebijakan Polda Kalimantan Timur, terkait kasus itu, kenaikan pangkat Kompol Dd menjadi AKBP, terpaksa ditunda sementara waktu. Kompol Dd sendiri, tercatat sebagai personel Polda Kalimantan Timur, yang ditugaskan di BNN Kalimantan Timur.

“Iya, karena berkaitan dengan laporan pengaduan itu, sehingga dia berdasarkan kebijakan dari Polda Kaltim, ditunda dulu,” ujar Eriadi.

Eriadi menambahkan tim nya belum begitu persis mengetahui tentang soal kebijakan terkait penundaan kenaikan pangkat itu, tetapi yang jelas dia mengalami suatu permasalahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Dijelaskan Eriadi bahwa, posisi Kompol Dd terkait kasus tersebut posisinya menjadi terbagi dua yaitu sebagai saksi penembakan yang menewaskan Noviandi, dan juga terkait persoalan disiplin anggota Polri.

Soal kasus disiplinnya, Kompol Dd belum dijadikan sebagai terperiksa sesuai pernyataan Eriadi.

Seperti diketahui Noviandi adalah warga Jalan Kakap Samarinda yang ditangkap personel BNN kalimantan Timur di rumahnya sebagai terduga terlibat jaringan narkoba, pada 25 Desember 2016 lalu. Namun upaya penangkapan gagal. Seorang personel BNN, Gatot, yang juga personel Polri, diduga ditikam Noviandi dan rekan Noviandi, yang kini masih dalam buruan.

Noviandi sempat kabur, dan akhirnya berhasil dibekuk BNN Kalimantan Timur, Rabu (28/12) lalu. Karena Noviandi masih mencoba melawan petugas sehingga ia dihadiahi peluru di kakinya , lantaran masih nekat melawan petugas, sehingga dia dilarikan ke RSUD AW Syachranie.

Belakangan Noviandi mengeluarkan banyak darah saat ia dibawa ke BNN Kaltim dari rumah sakit, kemudian ia meregang nyawa, 29 Desember 2016 lalu. Keluarga korban melapor terkait dugaan pembunuhan oleh Polri Kompol Dd, Polresta Samarinda kemudian menerjunkan 2 tim usut dugaan pelanggaran pidana dan pelanggaran disiplin Polri.

Baca juga berita terkini lainnya di Detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!