Kerusuhan Paling Berdarah Di Penjara Anisio Jobim

Selama dua dekade terakhir, kerusuhan di penjara Anisio Jobim, Manaus, Amazonas, Brasil kali ini merupakan yang paling berdarah. Sedikitnya 56 orang meninggal dalam kerusuhan ini. Sergio Fontes, kepala keamanan negara bagian Amazonas mengatakan, korban jiwa bisa bertambah bila masalah ini sudah ditelusuri lebih lanjut. Adapun kerusuhan ini dipicu oleh pertengkaran antara geng narkoba di Brasil.

Fontes juga memberitaukan kepada para wartawan saat mengadakan konferensi pers, bahwa beberapa jasad yang telah dipenggal kepalanya dilemparkan ke atas dinding penjara saat kerusuhan itu terjadi. Kebanyakan korban tewas berasal dari geng narkoba First Capital Command (PCC) yang bermarkas di Sao Paulo. Menurutnya ini merupakan perang tersembunyi dan kejam dari perdagangan narkoba di Brasil.

Kerusuhan itu terjadi karena bentrok antara tahanan yang bersekutu dengan PCC, geng narkoba paling kuat di Brasil, dan kelompok penjahat lokal Manaus yang dikenal sebagai North Family. Geng yang berbasis di Manaus ini diyakini menyerang para tahanan sekutu PCC atas perintah geng narkoba Red Command (CV) yang berbasis di Rio de Janeiro, geng narkoba terbesar kedua di Brasil.

Menurut Sergio Fontes, Kekerasan di penjara itu bermula Minggu malam dan berlangsung hingga berhasil dikendalikan pada Senin pagi sekitar pukul 07.00. Selama kerusuhan itu total ada 184 tahanan yang kabur dan 40 di antaranya berhasil ditangkap kembali pada Senin petang. Saat kerusuhan bermula di satu unit kompleks penjara Anisio Jobim, puluhan tahanan di unit kedua memulai pelarian massal dengan apa yang disebut pihak berwenang upaya terkoordinasi untuk mengalihkan perhatian penjaga.

Menteri Kehakiman Brasil Alexandre de Moraes, akan melakukan perjalanan ke Maraus pada Senin untuk bertemu dengan Gubernur Amazonas Jose Melo Oliveira dan pejabat keamanan federal lain guna membahas kerusuhan itu. Pedro Florencio, sekretaris penjara negara bagian Amazonas, mengatakan pembunuhan besar-besaran itu merupakan sebuah aksi “pembunuhan balas dendam” dalam perseteruan antar geng penjahat di Brasil.

Penjara-penjara dengan jumlah penghuni melebihi kapasitas sangat umum di Brasil akibat dari endemi kekerasan. Kelompok-kelompok hak asasi manusia di Brasil menyebut kondisi ini seperti penjara abad pertengahan dimana pangan langka dan sel-sel penuh yang membuat tahanan bahkan tak punya ruang untuk berbaring. Kompleks penjara Anisio Jobim sekarang menjadi rumah bagi 2.230 tahanan padahal kapasitasnya hanya untuk 590 tahanan.

Kelompok – kelompok pemantau kondisi penjara di Brasil mengkritik tajam pemerintahan Brasil. Menurut Pastur Valdir Silveria, direktur Pastoral Carceraria, yang merupakan salah satu kelompok yang memantau kondisi penjara di Brasil, kerusuhan seperti ini hampir setiap hari terjadi di penjara – penjara di Brasil. Dia juga mengatakan bahwa penjara – penjara tersebut dibangun hanya untuk membinasakan, menyiksa, dan membunuh para narapidana di dalamnya

 

error: Content is protected !!