Korea Utara Hampir Memicu Perang Dunia III

Pada 25 Juni 1950 lalu, Korea Utara melancarkan serangan ke Korea Selatan sebelum pagi menjelang. Tak ada yang menduga bahwa pada pukul 04.00, 130 ribu tentara Korea Utara (KPA) tengah menyeberangi wilayah perbatasan 38th parallel menju ke Korea Selatan. Tentara Korea Utara saat itu menggunakan SU-76 assault gun buatan Uni Soviet. Mereka juga membawa 200 unit tank serta 600 senjata artileri. Tujuan Korea Utara menyerang Korea Selatan saat itu adalah untuk menghancurkan militer Korea Selatan (ROK), menduduki Seoul, dan ‘membebaskan Korea Selatan’.

Serangan tiba-tiba ini membuat Departemen Pertahanan Amerika Serikat di Pentagon kalang kabut. Mereka sama sekali tidak memiliki persiapan untuk mengantisipasi langkah yang diambil oleh Korea Utara. Ada beberapa opini yang mengatakan bahwa AS saat itu tidak dapat berbuat banyak. Sementara itu ada juga beberapa pihak yang yakin bahwa penyerangan yang dilakukan oleh Korea Utara saat itu adalah langkah awal dari Joseph Stalin, penguasa Rusia saat itu, untuk menguasai dunia.

Kabar penyerangan Korea Utara ini diterima oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Harry Truman, lewat telepon dari Minister of Foreign Affairs Amerika Serikat saat itu, Dean Acheson. Truman yang saat itu sedang berkunjung ke kampung halamannya segera kembali ke Washington DC untuk menggelar rapat darurat dengan para penasihatnya.

Rapat itu menghasilkan pertimbangan untuk memerintahkan Douglas MacArthur, Komandan Pasukan AS di Timur Jauh, untuk segera memberikan bantuan militer kepada Korea Selatan. Namun keputusan konkret untuk menggerakkan pasukan AS belum juga dikeluarkan. Hal ini mengakibatkan Presiden Korea Selatan saat itu, Syngman Rhee, mengutarakan kekecewaannya terharap AS atas responnya yang lambat. Sementara itu, Pyongyang berkali – kali menyerukan agar Korea Selatan menyerah atau binasa lewat radio.

Hampir Memicu Perang Dunia III

Pada Perang Dunia II, Korea merupakan wilayah jajahan Jepang. Saat Tokyo menyerah dan menjadi pihak yang kalah dalam Perang Dunia II, Korea pun dibagi menjadi dua. Pasukan Amerika Serikat menerima penyerahan wilayah Korea Selatan dan Pasukan Soviet menerima penyerahan wilayah Korea Utara dari Jepang. Uni Soviet kemudian membantu pembentukan rezim komunis di Korea Utara, sementara Amerika Serikat menjadi sumber utama dukungan finansial dan militer untuk Korea Selatan.

Perang Korea saat itu bukan semata – mata pertempuran antara Seoul melawan Pyongyang. Penyerangan yang dilakukan Pyongyang kala itu didukung oleh Uni Soviet. Di sisi lain, pihak AS memberi bantuan militer kepada Korsel. Persatuan Bangsa – Bangsa (PBB), melalui Dewan Keamanan PBB, lalu segera mengeluarkan resolusi yang menyerukan bantuan militer untuk Korea Selatan. Rusia yang pada saat itu sedang memboikot Dewan Keamanan tidak bisa mengambil langkah veto.

Berbekal resolusi Dewan Keamanan PBB, Presiden Truman segera mengerahkan pasukan darat, udara, dan laut ke Korea untuk melakukan apa yang ia sebut sebagai police action. Intervensi AS saat itu membalikkan arus pertempuran. Pasukan Amerika Serikat dan Korea Selatan berhasil memukul mundur hingga masuk ke wilayah Korea Utara. Hal ini memicu intervensi besar – besaran yang dilakukan oleh pasukan komunis China pada akhir 1950.

Perang Korea adalah pertempuran ‘panas’ pertama pada era Perang Dingin. Pada Perang tersebut, Pasukan AS diturunkan pertama kali sejak Perang Dunia II berakhir. Perang tersebut mengakibatkan lebih dari 55.000 tentara Amerika terbunuh.

Saat itu, AS menerapkan kebijakan ‘perang terbatas’, di mana tujuan Washington DC bukanlah kekalahan total pihak musuh, namun ‘terbatas’ untuk melindungi Korea Selatan. Menurut pemerintah AS, itu adalah satu – satunya pilihan rasional untuk menghindari Perang Dunia III, sekaligus mengatasi sumber daya yang menipis. Namun rakyat AS tidak memahami istilah ‘perang terbatas’ tersebut. Mereka menginginkan kemenangan total seperti pada masa Perang Dunia II. Hal inilah yang menjadi sebab kebijakan dalam Perang Korea tersebut tidak mendapat dukungan rakyat AS.

Setelah tiga tahun pertempuran berdarah, yang menewaskan lebih dari 5 juta tentara dan warga sipil, Perang Korea diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Semenanjung Korea hingga saat ini masih terbelah dua. Secara teknis, Korea Selatan dan Korea Utara masih saling berhadapan, sebab Perang Korea hingga saat ini belum benar – benar berakhir.

Belakangan ini, Semenanjung Korea kembali menjadi titik panas, yang mungkin mengawali Perang Dunia III di masa depan. Aktivitas Nuklir Korea Utara belakangan ini yang mengacuhkan peringatan dari PBB menjadi perhatian dunia belakangan ini.

error: Content is protected !!