KPK Masih Memproses Penyidikan Kasus RJ Lino

Nama Richard Joost Lino kembali naik ke permukaan setelah ikut acara nonton bareng Piala AFF bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla pada sabtu (17/12) kemarin. RJ Lino yang merupakan mantan  Dirut Pelindoo II ini berstatus tersangka dalam kasus proyek pengadaan Quay Contauner Crane (QCC).

Terkait perkara tersebut, Kabiro Himas KPK Febri Diansyah mengatakan kalau hukum RJ Lino masih dalam tahap penyidikan. Saat ini penyidik KPK masih melakukan pendalaman soal negara masih dalam penyidikan. Jadi beberapa pidana terkait pasal 2 dan 3 di dalami lebih lanjut soal kerugian negara. Kata Febri di kantornya, jalan HR Rasuna Said.

Febri menambahkan, penyidik  juga membutuhkan waktu. Sebab kasus korupsi yang merugikan hingga Rp 37,97 miliar ini melibatkan
negara Tiongkok karena QCC tersebut dibeli di sana. “Perlu dipahami bila ada singgungan dengan wilayah negara maka butuh waktu penyidikan tetap berjalan sesuai prosedur,” ujar Febri.

Penyidik KPK juga sempat ke Negeri Tirai Bambu tersebut untuk mengecek perbedaan harga. Namun Febri mengaku belum mengetahui detail informasi yang sudah didapatkan. “Saya harus cek detailnya apakah termasuk teknis penyidikan yang bisa digunakan atau tidak.  Yang jelas bila bisa digunakan itu signifikan,” tuturnya.

Tidak ada tekanan,” ucapnya

RJ Lino memang terkenal dekat dengan para petinggi negara. Selain bersama Wapres JK, RJ Lino juga pernah makan bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Meski demikian, Febri mengaku tidak ada intervensi dari para petinggi negara.

Sebagaimana diketahui, RJ Lino ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Lino diduga menyalahgunakan wewenang sebagai Dirut Pelindo II dalam proyek pengadaan Quay Container Crane untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Penyalahgunaan wewenang ini diduga dilakukan Lino dengan memerintahkan penunjukan langsung, kepada perusahaan China untuk pengadaan 3 Quay Container Crane tersebut. Oleh KPK, Lino disangkakan Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 UU Tipikor.

Menurut KPK dalam jawaban praperadilan yang dibacakan di persidangan, RJ Lino diduga memerintahkan mengubah spesifikasi QCC yang dibutuhkan dari single lift ke twin lift. Selain itu dia juga diduga memerintahkan penunjukan langsung HDHM melalui instruksi/disposisi pada nota dinas Direktur Operasi dan Teknik Ferialdy Noerlan.

error: Content is protected !!