KPK Pakai Rekaman FBI Untuk Ungkap Korupsi E-KTP

Be Sociable, Share!

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar kembali rekaman hasil wawancara FBI (Federal Bureau Investigation) dengan Direktur Biomorf Lone LLC, Alm. Johannes Marliem, untuk mengungkap keterlibatan Setya Novanto dalam kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) pada persidangan. Menurut juru bicara KPK, Febri Diansyah, KPK mengklaim memiliki dasar hukum untuk menggunakan dan memutar hasil rekaman tersebut. Hal tersebut diatur di Pasal 12 ayat 1 huruf h atau i UU KPK.

Pasal 12 ayat 1 huruf h UU KPK menyebutkan, KPK berwenang meminta bantuan Interpol Indonesia ataupun instansi penegak hukum negara lainnya untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri. Sementara huruf i pada UU tersebut memuat aturan yang memberi kewenangan kepada KPK untuk meminta bantuan kepada kepolisian atau instansi terkait lainnya untuk melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.

Tidak hanya itu, Febri juga mengklaim KPK miliki payung regulasi dari hasil dua konvensi UN Convention against Transnational Organized Crime dan UN Convention against Corruption (UNCAC) yang telah diratifikasi oleh Indonesia. Konvensi tersebut mengatur tentang pertukaran informasi antar dua negara dalam bidang penegakan hukum. KPK juga tak perlu menghadirkan FBI untuk memastikan keaslian percakapan anggota FBI itu dengan Johannes Marliem karena komunikasi antar-institusi negara sudah ada.

Febri mengungkapkan bahwa ini bukan pertama kalinya KPK menjalin kerjasama dengan FBI dalam pengusutan suatu perkara korupsi. Menurut Febri, KPK pernah menjalin kerjasama sebelumnya dalam pengusutan kasus pembangunan PLTU Tarahan yang melibatkan pihak PT Alstom.

Jaksa KPK memutar rekaman percakapan Johannes Marliem dengan pihak FBI yang berlangsung di Los Angeles pada Agustus 2017 lalu pada persidangan mantan Ketua DPR, Setya Novanto. Keterangan Johanes Marliem kemudian dikonfirmasi Jaksa KPK kepada Andi Narogong di hadapan majelis hakim. Dalam rekaman tersebut, ada dua hal yang diungkapkan Marliem kepada penyelidik FBI.

Pertama, terkait tawar-menawar harga software yang melibatkan Setya Novanto. Marliem merupakan perwakilan Biomorf Mauritius, yang merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan produk biometrik merek L-1 untuk proyek e-KTP. Selain itu, Marliem mengaku bahwa ia dan Andi Narogong bersama-sama memberikan jam tangan merek Richard Mille kepada Setya Novanto. Jam tangan tersebut harganya diketahui mencapai 135.000 US Dollar.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!