LEGENDA DI BALIK MANISNYA POTONGAN KUE BULAN

Be Sociable, Share!

LEGENDA DI BALIK MANISNYA POTONGAN KUE BULAN

Legenda di balik manisnya potongan kue bulan tentunya sudah diketahui oleh kalangan dunia. Kali ini , untuk memeriahkan Festival Mooncake tahun ini, Hotel Tugu Malang kembali menyediakan sederetan varian kue bulan (mooncake).

Terdiri dari aneka varian rasa seperti kacang hijau, kacang merah, pandan, dan lainnya. Harga yang dibanderol untuk setiap kue bulan ini terbilang cukup murah. Hanya dengan merogoh kantong sebesar Rp 50 ribu , anda sudah bisa mendapatkan kue bulan ukuran Large

Kue ini hanya tersedia pada 23 September hingga 12 Oktober 2017. Mengangkat tema ‘a piece of forgotten history’, mooncake yang tersedia di Und Corner ini, terinspirasi dari legenda Mooncake Festival yang mengisahkan tentang Huo Yi dan kekasihnya Chang Er.

Mooncake Festival atau populer juga dengan Festival Kue Bulan terbilang cukup populer, khususnya di kalangan masyarakat Tionghoa. Tradisi yang telah dikenal sejak 2170 SM ini, dirayakan setiap tanggal 15 di bulan 8 menurut penanggalan China (Imlek). Festival ini diyakini bermula dari tradisi para Raja Cina terdahulu yang melakukan ritual sembahyang pada musim semi dan musim gugur.

ADANYA 2 VERSI CERITA YANG BERBEDA MENGENAI ASAL USUL KUE MOONCAKE

 

Perayaan Mooncake festival sangat dekat dengan legenda tentang Dewi Bulan bernama Chang Er. Banyak versi yang menceritakan tentang kisah sang dewi, salah satunya adalah kisah sang Dewi Bulan dan kekasihnya yang bernama Huo Yi. Konon, Huo Yi berhasil memanah tujuh dari delapan matahari yang ada di langit. Keberadaan delapan matahari itu membuat bumi sangat panas, sehingga menyebabkan kekeringan dan kelaparan.

Untungnya, Huo Yi berhasil memanah tujuh matahari, dan hanya menyisakan satu. Keberhasilan Huo Yi membuat Raja yang berkuasa kala itu menghadiahinya pil umur panjang. Karena dipuji berlebihan, Huo Yi menjadi sombong. Kesombongan Huo Yi ternyata membuat sang istri, Chang Er menjadi sangat sedih.

Kesedihan Chang Er menggiringnya untuk memilih menelan pil panjang umur milik suaminya. Karena menelan obat itu, perlahan tubuh Chang Er terangkat ke bulan dan mendapat kehidupan abadi sebagai Dewi Bulan.

Mengetahui hal itu, Huo Yi menyesali kesombongannya, namun tak bisa mengubah keadaan. Untuk mengobati kerinduannya pada Chang Er, setiap tanggal 15 di bulan 8 kalender China, Huo Yi akan menunggu Chang Er menampakkan diri saat bulan purnama. Sembari menunggu, Huo Yi selalu duduk sambil menikmati secangkir teh dan kue.

Sementara, versi lain menyebutkan perayaan festival kue bulan merupakan bentuk penghormatan petani kepada Dewi Bulan. Karena, pada tanggal 15 bulan ke-8 penanggalan China, masyarakat setempat dianugerahi panen yang melimpah. Sebagai wujud syukur, para petani membuat kue bulat dengan bermacam isi, dengan permukaan kue berukir tulisan China. Kue inilah yang dikenal dengan kue bulan atau mooncake.

Kue ini dipersembahkan untuk memeriahkan pesta, atau sekedar berkumpul bersama keluarga sambil meneguk teh Cina yang pahit. Mooncake juga kerap dihadirkan dalam perayaan rutin tahunan sebagai penanda akhir musim panen dan rasa syukur kepada Dewi Bulan.

 

detiktribun

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!