Misteri Blood Falls di Antartika

Di Antartika, ada sebuah area yang mengeluarkan semburan air berwarna merah darah yang sangat kontras dengan putihnya es disekitarnya. Hal ini tentu sangat menarik untuk disaksikan. Orang – orang menyebut daerah ini dengan nama ‘Blood Falls’Blood Falls sendiri terletak di ujung utara gletser Taylor, yang membentang sejauh 100 kilometer melalui pegunungan Transantartika.

Ketika penjelajah Antartika, Griffith Taylor, pertama kali menemukan tebing yang diwarnai dengan air merah darah tersebut pada 1911, mereka berasumsi bahwa alga merah menjadi faktor yang bertanggung jawab atas warnanya. Perkembangan di bidang ilmu pengetahuan membawa fakta baru yang menyangkal teori tersebut di tahun 2013. Diungkapkan bahwa bukan alga juga yang membuat warna merah. Sebenarnya, Blood Falls adalah hasil dari air asin kaya zat besi yang bergerak pelan, kemudian beroksidasi saat bersentuhan dengan udara, layaknya karat pada besi. Air tersebut bersifat sangat asin.

Mereka yang mendukung teori ini menduga bahwa area tempat Blood Falls berada, 5 juta tahun yang lalu adalah sebuah danau garam. Sebuah studi yang diterbitkan Journal of Glaciology menyebutkan bahwa air berwarna merah mengalir dari danau garam yang terjebak di bawah es selama 1,5 juta tahun. Ketika gletser Taylor meluas melintasi antartika sejuta tahun yang lalu, ia menutup danau air asin kecil di bawah lapisan salju dan es yang tak terhitung jumlahnya. Air asin menjadi semakin terkonsentrasi, sampai air asin terlalu asin untuk membeku pada suhu yang mencapai -17°C. Danau air laut subglasial tersebut telah mengikis besi dari batuan dasar, dan memberi warna khasnya setelah mencapai dunia luar.

Para peneliti dari University of Alaska Fairbanks dan Colorado College menggunakan metode radar yang disebut radio-echo sounding (RES). Metode ini seperti yang dilakukan oleh kelelawar untuk mengenali sekitarnya. Mereka menggunakan metode ini untuk menyelidiki jalur menuju keluar yang dilalui oleh Blood Fall.

Dengan menggunakan metode RES, tim ini melacak jalur sepanjang 300 meter, yang dilalui air asin melalui kanal bertekanan hingga mencapai puncak Blood Falls. Mereka menemukan sebuah danau berusia 5 juta tahun di bawah gletser Taylor dan mengonfirmasi kebenaran teori oksidasi tersebut.

Gletser Taylor sekarang adalah gletser paling dingin yang diketahui memiliki aliran air yang terus mengalir. Danau di bawah gletser ini memiliki konsistensi asin yang luar biasa. Karena air asin memiliki titik beku lebih rendah daripada air murni dan melepaskan panas saat membeku, kemungkinan besar ada sungai yang mengalir yang dihasilkan dari es yang meleleh.

Penemuan ini dapat membantu peneliti untuk mengetahui lebih banyak tentang ekologi danau air bersih subglasial. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa air asin sebenarnya adalah rumah bagi beberapa bakteri yang sangat kuat. Terputus dari dunia selama ribuan tahun, mikroba ini tidak memiliki apa-apa untuk dimakan kecuali sulfat, zat yang dapat digunakan banyak bakteri sebagai energi. Terperangkap di bawah gletser tanpa cahaya dan oksigen, bakteri mulai mendaur ulang suplai sulfat mereka, menguranginya menjadi sulfit, yang akan bereaksi dengan kandungan besi tinggi pada air, yang kemudian menghasilkan sulfat lebih banyak untuk mereka konsumsi. Penelitian ini dapat membawa kita lebih dekat untuk memahami evolusi geokimia yang digabungkan juga lingkungan mikroba yang dipandu oleh air garam.

error: Content is protected !!