Monica, anak penjual kopi keliling yang ke Kanada

Monica, anak penjual kopi keliling, Yang akan ke Kanada

Monica 14 tahun, anak penjual kopi, terpilih untuk mewakili Indonesia. Di Tonggak Kampanye Global untuk Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak WHO ke-8, di Ottawa, Kanada pada 19-20 Oktober 2017.

Ketua Komisi Pemantau dan Monitoring Anak Indonesia (Wasmonev). Jasra Putra mengatakan, disana dia akan menyuarakan tulisan terkait tentang Ending Child Violence. Awalnya pada tahun 2016, Save the Children, sebuah LSM yang mengkhususkan diri dalam masalah anak di Indonesia, menerima undangan dari WHO.

Kemudian, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, yayasan anak Save the Children menyelenggarakan konsultasi anak di tiga kota. Ketiga kota yaitu Bandung, Kupang, dan Yogyakarta untuk mengirim perwakilan untuk memenuhi undangan WHO.

Peserta diminta mengirimkan makalah tentang Mengakhiri Kekerasan Terhadap Anak-anak. Ada beberapa kriteria penulisan artikel jadi dipilih tiga yang terbaik.

Friends of Save The Children bekerja sama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik, yang juga memiliki panti asuhan dimana Monica dirawat. Nama panti asuhan tersebut adalah Yayasan Hamba di Yogyakarta, setelah dipilih, Moniica terpilih sebagai perwakilan dari Yogyakarta,” kata Jasra saat bertemu Purwati di Jalan Gandasuli, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (6/10).

Monica anak yang pendiam dan rajin membaca

Jasra menceritakan bahwa tulisan Monica menguraikan pengalaman dia yang tinggal di panti asuhan. Selain penggambarannya, dia juga membandingkan kondisi seperti apa saat berada dalam kehidupan sosial.

“Ceritanya bercerita tentang pengalamannya saat memasuki panti asuhan. Membandingkan suasana berada di panti asuhan dan di luar panti asuhan dan menggambarkan kondisi keluarga yang menghadapi masalah pelecehan terhadap anak. Yang akan dia hadiri di Kanada. Perspektif anak saat membahas isu kekerasan terhadap diri mereka sendiri? “katanya.

Berdasarkan laporan Save the Children, Monica konon selalu mendapat arahan dari mentornya di yayasan agar nantinya bisa menjadi pemimpin.

Di sisi lain, Purwati, ibunya mengatakan sejak kecil, anaknya gemar membaca buku. Terutama cerita pendek.

“Anaknya pendiam, tidak banyak bicara, dia suka membaca, dan kalau pergi ke Yogyakarta, dia selalu membaca cerita pendek.” Kata Purwati.

Sejak anaknya sibuk didiskusikan dalam berita tersebut. Purwati mengaku selalu mendapat selamat dari orang asing saat melewati kediamannya di Jalan Gandasuli, Senen.

Tidak ada pagi, tidak ada malam, orang yang lewat-katakan ‘selamat ya bu’, tapi saya tidak tahu siapa yang saya balas katakan ‘iya terimakasih’, begitu saja,” katanya.

error: Content is protected !!