Perdagangan AS Defisit, Trump Perintahkan Selidiki Indonesia

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan menyelidiki negara – negara yang menjadi mitra dagang Amerika Serikat selama ini. Trump mencurigai bahwa para mitra dagang AS yang menyebabkan neraca perdagangan AS defisit, telah melakukan kecurangan dalam melakukan perdagangan selama ini. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang masuk dalam daftar penyelidikan mengenai sumber defisit dari neraca perdagangan Amerika Serikat.

Menanggapi hal ini, Pemerintah akan melakukan evaluasi terkait hubungan kerja sama dibidang perdagang dengan Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Selasa (4/4) kemarin. Ia yakin bahwa tuduhan Trump bahwa Indonesia melakukan kecurangan dalam melakukan perdagangan dengan AS adalah hal yang keliru. Menurut Darmin, ekspor produk Tanah Air ke Negeri Paman Sam tersebut tidak bersaing dengan produk asli AS. Produk ekspor Indonesia justru bersaing dengan produk asal China dan Vietnam. Seharusnya hal ini tidak mengganggu produk – produk dalam negeri AS.

Terkait evaluasi perdagangan dengan AS yang akan dilakukan pemerintah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan memastikan bahwa kementeriannya akan melihat kembali realisasi dan kinerja perdagangan antara Indonesia dengan Amerika Serikat, sambil memperhatikan langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Trump menyangkut masalah perdagangan ini. Enggar juga mengatakan bahwa saat ini kementeriannya sedang menginventarisasi komoditas ekspor Indonesia ke AS. Hal ini dilakukan untuk memetakan komoditas apa saja yang selama ini telah diekspor ke Amerika Serikat dan bagaimana potensinya bila Trump benar – benar akan menyeleksi perdagangan dengan Indonesia.

Tanggapan Jusuf Kalla

Beberapa media luar negeri mengatakan bahwa negara yang menyebabkan perdagangan AS defisit, pasti telah melakukan kecurangan. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), menjelaskan bahwa yang namanya perdagangan antar negara itu bergerak dinamis, bisa surplus dan bisa juga defisit. Semua ini dapat berjalan dengan baik dan tidak ada masalah selama kedua negara berlaku adil dan atas kepentingan bersama.

JK menjelaskan bahwa perdagangan itu bersifat fair. Tuduhan Trump yang mengatakan bahwa Indonesia melakukan kecurangan sehingga menyebabkan AS defisit juga tidak benar. Menurut JK, defisit yang dialami AS disebabkan oleh harga produk dari Amerika Serikat yang terbilang cukup mahal sehingga Indonesia umumnya tidak terlalu banyak melakukan impor dari AS. Sebaliknya, AS banyak melakukan impor dari Indonesia sebab produk dari Indonesia terbilang murah dan memiliki kualitas yang baik.

Hal ini wajar terjadi di perdagangan antar negara. JK cukup terkejut atas tuduhan yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump ini. Sebab Amerika Serikat selama ini selalu menggagaskan perdagangan bebas antar negara. Perdagangan antar negara ini juga telah dijamin oleh WTO dan organisasi perdagangan dunia lainnya.

Target Pasar Baru

Dikarenakan kebijakan perdagangan AS yang semakin tidak pasti, pemerintah lebih memilih untuk fokus melakukan ekspansi ekspor ke sejumlah negara baru. Keputusan pemerintah untuk melakukan diversifikasi pasar ini telah disampaikan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Enggar juga mengatakan bahwa ia telah mendapatkan perintah dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan diversifikasi pasar dengan target tanda tangan kerja sama perdagangan dengan 16 negara baru di tahun ini.

Adapun yang menjadi target pasar baru pemerintah Indonesia seperti negara – negara di kawasan Afrika, Timur Tengah, Eurasia, sampai Amerika Latin. Negara – negara di kawasan tersebut, disebut-sebut belum  memaksimal hubungan kerja sama perdagangannya dengan Indonesia. Indonesia juga akan bekerja sama secara regional dan multilateral dengan beberapa gabungan negara dan forum perdagangan, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

error: Content is protected !!