Pencemaran Merkuri Di Indonesia Lebih Parah Dari Di Minamata

Be Sociable, Share!

Tragedi pencemaran merkuri (Hg) atau air raksa yang pernah terjadi di kota Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang pada tahun 1958 kini mengancam sejumlah wilayah di Indonesia. Daerah yang berpotensi untuk terjadi pencemaran merkuri ini adalah daerah dimana terdapat Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan Penambangan emas illegal. Seperti di Poboya Sulawesi Tengah, Gunung Botak di Pulau Buru, Cisitu, Cibeber di Lebak Banten, Bombana di Sulawesi Tenggara dan ratusan tempat lainnya.

Umumnya, PESK dan para penambang emas illegal ini tidak memiliki fasilitas untuk memproses atau menampung limbah dari hasil penambangan tersebut. Sehingga limbah – limbah ini langsung saja dibuang ke alam tanpa melalui proses apapun. Tentu saja hal ini akan menimbulkan perusakan alam yang akan sangat berbahaya bagi penduduk disekitarnya.

Pada tragedi Minamata, PT Chisso membuang limbah kimianya ke Teluk Minamata dalam jumlah yang sangat besar (200-600 ton Hg dari tahun 1932). Hal ini membuat ikan yang berada di teluk Minamata menjadi tercemar merkuri. Prefektur Kumamoto sebagai pengkonsumsi ikan dalam jumlah yang besar (286 -410 gr/hari), masyarakatnya terkena dampak yang sangat besar. Banyak warga Minamata yang hidup hingga sekarang dengan kondisi cacat fisik akibat pencemaran tersebut. Prefektur lainnya seperti Kumamoto, Tottori, Wakayama dan Chiba juga terkena dampak dari Sindrom Minamata ini.

Dampak buruk dari pembuangan limbah kimia di teluk Minamata mulai terlihat sekitar tahun 1949. Penyakit aneh mulai mewabah di Minamata. Ratusan orang meninggal karena kelumpuhan syaraf. Menurut para ahli kesehatan saat itu, penyakit ini disebabkan karena mereka memakan ikan yang ternyata sudah tercemar logam berat Hg yang berasal dari industri batu baterai PT Chisso yang membuang merkuri ke laut. Pabrik itu akhirnya ditutup dan pemiliknya harus memberikan ganti rugi sekitar US$ 26,6 juta kepada masyarakat dan Kerajaan Jepang.

Pencemaran Merkuri di Perairan Indonesia Lebih Dahsyat dari Minamata

Menurut Studi yang dilakukan oleh tim dari Medicus Foundation, tragedi Minamata akan terulang di Indonesia dengan dampak yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh menjamurnya PESK dan tambang emas rakyat ilegal di sekitar 800 daerah di seluruh Indonesia. Mereka umumnya tidak memproses limbah hasil penambangan dan langsung membuangnya ke alam sehingga akan menghasilkan konsekuensi serius kepada kehidupan masyarakat dan lingkungan disekitar tambang tersebut.

Pada kasus tragedi Minamata, kadar konsentrasi merkuri pada penduduk di daerah tersebut rata-rata antara 1,43 – 2,55 mikrogram/gram. Sedangkan di salah satu desa dekat dengan area penambangan di Desa Debowae, Maluku, kandungan Hg pada air seni penduduknya berkisar antara 10,5 mikrogram/liter – 127 mikrogram/liter. Hal ini membuktikan bahwa pencemaran di daerah tambang ilegal di Indonesia sudah jauh melampaui apa yang terjadi di Minamata.

Tentu saja negara tidak mendapatkan apapun dari penambangan – penambangan seperti ini. Bahkan negara harus menanggung semua kerusakan yang telah dilakukan oleh para penambang tersebut. Hasil dari tambang ini pun hanya dinikmati oleh investor yang tidak diketahui. Kaki tangan para investor ini pun umumnya dilindungi oleh oknum aparat Pemerintah Daerah maupun kepolisian setempat. Hal inilah yang membuat pertambangan – pertambangan liar seperti ini sulit diberantas.

Pengaturan dan pengawasan yang ketat terkait dengan PESK dan pertambangan ilegal wajib segera dilakukan. Bila tidak, Indonesia akan mengalami kerugian yang besar baik dari segi sumber daya manusia, lingkungan hidup, maupun ekonomi. Semakin lama dibiarkan, akan semakin banyak daerah yang akan tercemar dan dampaknya pun akan semakin meluas bila tidak segera ditindak. Negara lah yang akan sangat dirugikan karena harus menanggung biaya kerusakan kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan akibat pencemaran logam berat yang sangat besar jumlahnya.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!