Penganut Ateisme Lebih Cerdas Dari Orang Religius ??

Be Sociable, Share!

Para ilmuwan telah mempelajari korelasi antara ateisme dengan kecerdasan selama lebih dari satu milenium. Umumnya, orang yang ateis cenderung lebih cerdas bila dibandingkan dengan orang yang religius. Tren ini terus berlanjut dari tahun ketahun tanpa alasan yang jelas. Namun studi terbaru menghasilkan gagasan bahwa agama adalah naluri, dan orang – orang yang mampu melampaui naluri umumnya lebih cerdas daripada yang mengandalkan nalurinya.

Menurut peneliti dari Ulster Institute for Social Research, Inggris, Edward Dutton, orang – orang yang tidak beragama cenderung berpikiran lebih rasional daripada saudara – saudara mereka yang religius. Akan tetapi, Dutton menemukan bukti bahwa kecerdasan berhubungan positif dengan ‘jenis bias tertentu’ dalam penelitian terbarunya.

Pada sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology, seorang mahasiswa sering mendapatkan jawaban yang logis namun salah dan mereka tidak menyadarinya. Hal seperti Inilah yang disebut ‘bias blind spot’. Hal ini terjadi ketika seseorang tidak dapat mendeteksi bias, atau kekurangan, dalam pemikiran mereka sendiri. Jika ada, maka ‘bias blind spot’ yang lebih besar dapat dikaitkan dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Dutton juga menjelaskan, apabila orang cerdas cenderung tidak memahami bias mereka sendiri, hal tersebut dikarenakan mereka kurang berpikiran rasional dalam beberapa hal.

Dosen Filsafat Sains dari Universitas Oxford, Inggris, Nathan Cofnas, justru melakukan pendekatan melalui ‘insting religius’ (naluri beragama). Menurutnya, Jika agama memiliki dasar instingtual, maka orang yang cerdas akan lebih mampu menerima dan mengadopsi ateisme. Namun begitu, tanpa mengetahui sifat yang tepat dari ‘insting religius’, ia mengaku tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa ateisme juga memanfaatkan naluri yang sama. Cofnas mencontohkan penulis Christopher Hitchens yang berpikir bahwa komunisme adalah agama, atau gerakan sekuler seperti veganisme. Menurutnya, gerakan keagamaaan dan nonreligius bergantung pada iman yang mengidentifikasi dengan komunitas yang sepaham dan fanatik.

Dutton menekankan bahwa orang cenderung beralih ke agama ketika mengalami masa-masa sulit, seperti misalnya menghadapi kematian. Sebab, naluri mereka menganggap agama sebagai pemecah masalah (problem solving) yang lebih baik. Ia juga berpendapat bahwa kecerdasan membantu orang naik di atas naluri ini selama masa stres. Menurutnya, jika agama benar-benar sebuah domain yang berkembang maka domain ini akan semakin tinggi pada saat stres. Orang pada umumnya cenderung bertindak secara naluriah, dan ada bukti jelas untuk hal ini.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!