Polisi Filipina Tangguhkan Perang Terhadap Narkoba

Be Sociable, Share!

Polisi di Filipina memutuskan untuk menagguhkan perang terhadap narkoba. Hal ini dikarenakan Kepala polisi Filipina, Ronald dela Rosa, memutuskan untuk membersihkan para petugas polisi yang korup terlebih dahulu. Dela Rosa juga mengatakan bahwa unit-unit anti-narkoba di kepolisian akan ditutup dan tindakan keras kepada para penjual atau pengedar narkoba juga akan ditunda.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah terjadi kasus pembunuhan seorang pengusaha Korea Selatan di dalam markas polisi. Pria bernama Jee Ick-joo ini dibunuh dan diculik oleh polisi anti-narkoba, kemudian dibunuh secara sadis. Bahkan para penculik ini sempat meminta uang tebusan dari istrinya meskipun sang suami telah tewas.

Karena kasus pembunuhan ini, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan Dela Rosa untuk membersihkan organisasi kepolisian terlebih dulu. Sejak dimulai tahun lalu, kampanye anti-narkoba Duterte telah menewaskan 7.000 orang. Tingginya jumlah korban tewas dalam perang narkoba Duterte ini telah menuai kritik keras dari berbagai kelompok HAM dan negara-negara Barat. Meskipun mendapatkan banyak kritik keras, Duterte tetap menjalankan kebijakan perang terhadap narkoba. Ia pun mendapatkan dukungan tinggi dari warga Filipina.

Dela Rosa memperkirakan dibutuhkan waktu sebulan untuk membersihkan para polisi yang korup. Menurutnya hal ini dapat tercapai dengan adanya kerja sama dan saling membantu dari dalam kepolisian maupun masyarakat. Para polisi yang tertangkap terlibat dengan sindikat – sindikat akan ditewaskan oleh satgas kontra-intelijen bila berani melawan.

Saat dilantik, Duterte menjanjikan penanganan narkoba di Filipina sebagai langkah utama selama masa jabatannya. Ia berjanji memberantas narkoba sampai Desember 2016, namun ia kemudian memperpanjang penanganan narkoba ini sampai Maret 2017. Namun akhir pekan lalu, Duterte kembali meralat pernyataanya dan memperpanjang perang melawan narkoba ini hingga akhir masa jabatannya di tahun 2022. Menurut Duterte, dia telah meremehkan kedalaman masalah narkoba yang terjadi di Filipina.

Anggota parlemen yang kritis melawan Duterte, Senator Leila De Lima, menyatakan bahwa presiden dan kepala polisi harus tegas memberi perintah untuk mengakhiri pembunuhan. Dengan pembubaran unit-unit anti-narkoba artinya mereka menyadari bahwa setiap orang yang terlibat dalam operasi anti-narkoba mungkin juga telah terlibat pula dalam aktivitas-aktivitas ilegal dengan kedok perang terhadap narkoba.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!