Polisi Tetapkan Sugiharti Sebagai Tersangka Dalam Orderan Palsu Aplikasi Online

Polisi Tetapkan Sugiharti Sebagai Tersangka Dalam Orderan Palsu Aplikasi Online

Polisi Tetapkan Sugiharti Sebagai Tersangka Dalam Orderan Palsu Aplikasi Online. Pihak penyidik Polres Jakarta Timur telah resmi menetapkan status tersangka Sugiharti atas dugaan membuat order fiktif dan pencermaran nama baik kepada Julianto Sudrajat.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo menyebut kami sudah menetapkan status tersangka kepada yang bersangkutan dikarenakan membuat orderan palsu dan pencemaran nama baik terhadap yang di rugikan.

Sugiharti diperiksa sejak pagi hari, dirinya mengakui bahwa dia yang membuat orderan fiktif

Ada dua orang yang mengaku sebagai korban orderan fiktif lewat saja transportasi yang berbasis lewat aplikasi online. Yang pertama lewat layanan Go food yang bertujuh kepada pegawai sebuah bank swasta yang bernama Julianto Sudraja dan yang kedua denganb petugas PPSU bernama Ahmad Maulana

Julianto Sudraja dan Ahmad Maulana sama sama mencurigai Sugiarti yang merupakan mantan kekasih dari keduanya. Yang sebagai dalang dalam orderan Fiktif tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah driver Go-Jek mendapatkan order makanan sejak beberapa hari lalu yang mengatasnamakan Julianto sebagai pemesan. Selain Go-Food, pelaku juga memesan Go-Box atas nama Julianto. Padahal, Julianto sama sekali tidak pernah memesannya.

Julianto Sudraja pun melaporkan kasusnya ke Polres Jakarta Timur. Laporan tersebut juga di benarkan oleh Kapolres Meteri Jakarta Timur Andry Wibowo

Kedua korban oderan fiktif ini sempat memiliki hubungan spesoal dengan tersangka. Namun hubungan ini tidak berjalan semestinya. Keduanya menduga hal tersebut dilakukan tersangka dalam memberikan peringatan kepada kedua korban.

Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia, Izak Jenie menjelaskan bawah Jenis jenis fraud seperti di Go-Food ini biasa disebut social fraud. Pengertiannya, seseorang melakukan kejahatan bukan dari karena alasan teknis, melainkan karena kegiatan sosial.

Lebih lanjut Izak menilai bahwa tindakan yang tidak masuk akan dari seorang yang melakukan pemesanan makanan berkali kali dengan cepat. Melalui aplikasi online dengan nama pemesanan dan lokasi yang sama. hal tesebut bisa dilacak langsung oleh pihak yang menyediakan layanan antar. Hal agar mencegah adanya potensi kejahatan dari pesanan fiktif

“Secara teknis di IT bisa dicek. Kalau seseorang melakukan transaksi 10 kali dalam waktu 30 menit atau pesan makanan berulang kali dalam waktu sehari ke tempat yang sama, biasanya sistem langsung raise alarm bahwa ada kemungkinan fraud,”

Menurutnya, seluruh perbankan sudah menerapkan velocity checking sebagai bagian dari sistem analisis kejahatan.

dewadominoqq

error: Content is protected !!