PRESTASI INDONESIA DI KANCAH OLAHRAGA MASIH BELUM MAKSIMAL

PRESTASI INDONESIA DI KANCAH OLAHRAGA MASIH BELUM MAKSIMAL

Prestasi indonesia di kancah olahraga masih belum maksimal. Dalam hal ini , Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), menganggap gagalnya atas hasil Indonesia pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur menuai banyak tudingan.

Tudingan itu disampaikan Lukman Edy selaku Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI). Sosok ini keras mengkritik kinerja Satlak Prima. Bahkan dianggap berperan besar atas hasil buruk Indonesia.

Hasil ini juga terjun bebas dibanding SEA Games Singapura tahun 2015 silam. Kala itu Indonesia juga berada di peringkat ke-5, dengan total medali 47 emas, 61 perak dan 74 perunggu.

Kritikan itu justru membuat Sutjipto ingin bertemu dengan Lukman Edy. Sekaligus menjelaskan kepada anggota DPR dari Fraksi PKB itu soal kinerja Satlak Prima selama ini. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) ini bingung mengenai tuduhan korupsi anggaran atlet dinilai tak nyambung. Sebab sebagai tim khusus di bawah Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora), ini tidak diberi kuasa memegang anggaran sendiri. Semua harus seizin pihak kementerian.

“Dibilang korupsi ? Kami tidak pegang anggaran,” ucap Sutjipto.

Anggaran dimiliki Satlak Prima selama ini juga tak maksimal. Sutjipto menyebut birokrasi di Kemenpora sebagai biang keladi. Sehingga banyak atlet harus terlantar. Termasuk kepada pihaknya. Sulit memberi kontribusi besar kepada para atlet maupun olah raga nasional secara keseluruhan.

Secara prestasi Indonesia ajang adu gengsi antar negara ASEAN itu, pihaknya merasa hasil dicapai tidak buruk. Meski harus diakui hasil 38 emas jauh dari target. Namun, pihaknya menganggap itu hasil maksimal bisa dicapai. Sedangkan angka 55 emas, merupakan target tengah. Itu diambil dari 44 emas hingga 60 emas.

DILUAR ADANYA KECURANGAN YANG DILAKUKAN TUAN RUMAH

Di luar adanya dugaan kecurangan dilakukan Malaysia sebagai tuan rumah SEA Games 2017. Sutjipto menyebut Indonesia juga harus merelakan peluang perolehan 28 emas. Itu dari 9 cabang olah raga dihilangkan dalam ajang tersebut.

Sehingga, kata Sutjipto, bila angka itu dikurang dengan hasil Indonesia di SEA Games Singapura maka seharusnya hanya mendapat 19 emas. Namun, dalam ajang di Malaysia lalu mampu meraih 38 emas. Dengan total raihan medali secara keseluruhan 191 medali. Jumlah ini berada di posisi ke-3 di bawah Malaysia 323 medali dan Thailand 246 medali.

Faktor lainnya, Sutjipto harus mengakui bahwa negara lain telah lebih maju dalam infrastruktur olah raga. Seperti di Malaysia. Mereka tak hanya memiliki pusat olah raga di Bukit jalil. Di sana juga dikembangkan tengah Sport Science dan pelbagai macam. Sedangkan di Tanah Air, justru terbalik.

Meski sempat merajai SEA Games selama kurun waktu 20 tahun, namun itu memotivasi para negara ASEAN lainnya mengembangkan olah raganya. Lagi-lagi, kata dia, masalah anggaran untuk dukungan olah raga di Indonesia masih minim. Semua hanya terpaku pada anggaran negara. Belum ada pihak swasta terlibat.

Harus diakui pula bahwa hasil di SEA Games 2017 ini bakal menjadi rujukan bagi Asian Games 2018 nanti. Sebagai tuan rumah, Indonesia tentu dituntut mendapat hasil maksimal.

 

detiktribun.com

error: Content is protected !!