Putri Mako Kehilangan Status Kekaisarannya Demi Cinta

Putri Mako (Mako Naishinnō), cucu dari Kaisar Jepang Akihito, menyerahkan status kekaisarannya agar ia dapat menikahi seorang pria dari kalangan rakyat jelata. Pria beruntung ini adalah Kei Komuro, seorang sales promosi untuk pariwisata Pantai Shonan di Prefektur Kanagawa yang ia temui di sebuah restoran. Komuro ternyata juga memiliki almamater yang sama dengan sang Putri, yaitu dari International Christian University (ICU) di Tokyo. Putri Mako sendiri mengaku bahwa ia menyukai Komuro karena kekasihnya ini gemar bermain ski, bisa bermain biola, dan pandai memasak.

Mereka bertemu di dalam acara pesta di sebuah restoran di Shibuya, Tokyo, sekitar lima tahun yang lalu. Mereka merasa tertarik satu sama lain dan telah berhubungan dekat dalam beberapa bulan terakhir ini. Putri Mako telah memperkenalkan Komuro kepada orangtuanya, dan mereka menyetujui.

Setelah mereka terikat status pernikahan, Putri Mako akan kehilangan statusnya sebagai putri dan akan menjadi rakyat biasa, sesuai dengan tradisi kekaisaran Jepang. Selain itu, seorang wanita juga tidak bisa menggantikan Tahta Kaisar di Jepang. Adik perempuannya, Putri Kako (22) mengikuti jejaknya di International Christian University di Tokyo. Ayah Mako Pangeran Akishino (Fumihito shinnō) dan adik laki – lakinya Pangeran Hisahito saat ini tengah ‘mengantri’ untuk bisa menggantikan Kaisar Akihito. Namun, mereka harus terlebih dahulu mengalah kepada pamannya, Putra Mahkota Pangeran Naruhito.

Meski akan menjadi rakyat biasa, pernikahan Putri Mako akan melalui proses yang cukup panjang. Pertama, kekaisaran akan memberikan pengumuman pertunangan, kemudian tanggal pernikahan akan ditentukan saat pasangan tersebut telah membuat laporan resmi kepada Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko.

Tidak seperti kerajaan di Inggris dan negara – negara kerajaan lainnya, Kaisar Jepang dan keluarganya cenderung jauh dari pantauan publik. Mereka tidak mengumbar kegiatan, meski bepergian ke luar negeri atau tampil di acara budaya. Karena itu, hanya sedikit orang yang mengetahui kegiatan Putri Mako, selain ia lulus dari International Christian University Tokyo pada April 2010.

Putri Mako sempat mengenyam studi properti seni dan budaya, di Universitas Edinburgh di Skotlandia dalam pertukaran pelajar. Putri Mako kemudian melanjutkan sekolah ke Inggris dan mendapatkan gelar master studi seni dan galeri dari Universitas Leicester pada Januari 2016. Saat ini ia bekerja sebagai peneliti afiliasi Museum Universitas di Universitas Tokyo sambil menggabungkan program doktor di International Christian University.

error: Content is protected !!