Rupiah Menguat di nilai 13.140, AS melemah?

Rupiah Menguat di nilai 13.140, ada apa dengan Dolar AS?

Dolar AS bergerak di kisaran Rp 13.140 pada Senin (11/09/2017), Rupiah menguat 12 poin di atas Dollar

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penyebab melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang global, termasuk rupiah. Salah satunya adalah karena pertumbuhan ekonomi AS dan inflasi yang  diramalkan di bawah kepemimpinan Donald J. Trump. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan nilai tukar dolar AS tidak sekuat yang diperkirakan di awal tahun ini. BI, Bank Sentral AS dan pasar keuangan global memproyeksikan awal tahun ini. Ekonomi AS akan tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Proyeksi saat itu adalah karena Trump diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat didukung oleh Senat dan Kongres di AS. Tapi tidak,” kata Mirza saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di RAPBN 2018 di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/9 / 2017).

Rupiah Menguat, Tidak Ada Sinyal Kenaikan Suku Bunga

Menurut Mirza, fakta yang terjadi sampai sekarang, ekonomi AS di bawah pimpinan Presiden AS Donald Trump tumbuh. Namun tidak sekuat yang diprediksi. Akibatnya, inflasi superpower tercatat di bawah 2 persen, dari perkiraan  yang hanya 2 persen.

“Dua hal ini, pertumbuhan ekonomi AS tidak secepat perkiraan dan perkiraan inflasi membuat kenaikan suku bunga Fed yang semula bisa 3-4 kali. Tahun ini, mungkin hanya dua kali. Sekarang kenaikan suku bunga di bulan September tidak terjadi, dan akan terjadi di bulan Desember, karena probabilitasnya hanya 30 persen di bulan Desember, “jelasnya.

Rupiah Menguat dan cenderung stabil

Faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS, ia mengakui, menyeret melemahnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dunia. Indeks dolar AS juga merosot, bersamaan dengan yield obligasi pemerintah 10 tahun AS hanya 2 persen.

“Kondisi ini membuat mata uang pasar berkembang, termasuk Indonesia kembali begitu menarik, arus masuk modal kembali ke Indonesia, imbal hasil SPN 10 tahun di bawah 6 persen, dari 7 persen sebelum itu membuat rupiah relatif stabil dan kuat” tegas Mirza.

Mengutip Bloomberg, Senin 11 September 2017, rupiah dibuka pada level 13.187 per dolar AS, turun sedikit dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Namun menjelang siang, rupiah sempat menguat ke kisaran 13.140 per dolar AS.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan  Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, realisasi nilai tukar rupiah pada 7 September 2017, bergerak di level Rp 13.331 per dolar AS.

“Jika kita melihat faktor domestik, pemulihan ekspor dan berlanjutnya penguatan PMA dalam pertumbuhan ekonomi, kami berharap nilai tukar rupiah akan stabil di kisaran Rp 13.300 sampai Rp 13.400 per dolar AS. Prospek total sampai akhir tahun ini adalah Rp 13.400 per dolar AS, “kata Sri.

error: Content is protected !!