Rusia Akan Operasikan Drone Elektromagnetik Diwilayah Suriah

Rusia Akan Operasikan Drone Elektromagnetik Diwilayah Suriah

Rusia Akan Operasikan Drone Elektromagnetik Diwilayah Suriah. Negeri yang berjulukan Beruang Merah tersebut memamerkan pesawat tanpa awak atau drone tempur perdana mereka saat  latihan akbar. Untuk persiapan Parade Hari Kemenangan Uni Soviet pada Perang Dunia II, yang berlangsung di Moskow, Minggu, 6 Mei 2018.

Diketahui, Drone yang bernama Corsair itu diklaim mampu membawa bom dan misil serta melakukan operasi pengintaian.

Corsair pun hadir dalam dua tipe. Tipe pertama adalah drone berbentuk pesawat dengan berat bobot 200 kilogram yang memiliki lebar sayap 6 mete.  Terbuat dari materi komposit.

Alutsista itu dirancang untuk misi pengintaian, pengiriman kargo, target pengeboman dengan senjata berpandu dan tak berpandu, serta perang elektronik.

Tipe Corsair kedua adalah drone berbentuk helikopter tempur dengan fungsi dan persenjataan yang sama dengan pesawat, di bekali senjata maupun Bom.

Analis Militer Dmitry Safonov kepada RBTH menyampaikan bahwa Penggunaaan Drone sangat penting bagi militer Rusia. Karena pesawat tak berawak saat ini merupakan tren utama dalam pertempuran militer dan banyak mesin serupa sedang dikembangkan oleh militer di seluruh dunia,

“Mereka banyak digunakan selama operasi militer AS  dan NATO di Afganistan. Pada saat yang sama, mereka dikecam keras atas banyaknya jumlah korban sipil karena informasi intelijen dan operator keliru yang menyerang penduduk,arena mereka tidak bisa membedakan mana teroris dan mana orang biasa. Mari kita lihat seberapa baik tentara Rusia membuat drone-nya sendiri,” kata Safonov.

Safonov dan sejumlah pakar Rusia lain percaya bahwa drone baru ini akan diikutkan dalam pertempuran di Suriah dalam beberapa bulan mendatang.  pekan lalu, perusahaan manufaktur pertahanan Rusia, Automatica Concern telah mengumumkan tiga senjata elektromagnetik baru akan diuji di wilayah Suriah.

Senjata tersebut dibagi menjadi tiga versi yaitu kecil, sedang, dan besar. Menurutnya tergantung pada jenis target. Dengan fokus utama pada pesawat tak berawak atau drone yang memenuhi langit Suriah.

Moskow mengklaim bahwa senjata elektromagnetik tersebut akan dipasang di Suriah demi memerangi drone yang dioperasikan kelompok teroris seperti ISIS. Namun, pesawat tak berawak Amerika Serikat turut beroperasi di kawasan yang sama.

Washington menangapi upaya tersebut bahwa eksistensi persenjataan milik Moskow itu akan mengancam keselamatan operasi aviasi militer AS di wilayah Suriah utara, Dimana mereka membantu kelompok milisi Kurdi lokal untuk memerangi teroris.

Amerika Serikat juga mengimbau kepada moskow untuk pengoperaian senjata elektromagnetik tersebut. Jika dioperasikan secara tidak bertanggungjawab, akan semakin meningkatkan tensi militer tinggi dengan Rusia. Dimana  kedua negara merupakan aktor proxy conflict utama di negara yang tengah dilanda perang saudara.

detiktribun

error: Content is protected !!