SETYA NOVANTO KINI MENJADI ORANG YANG PESAKITAN DI KPK

SETYA NOVANTO KINI MENJADI ORANG YANG PESAKITAN DI KPK

SETYA NOVANTO KINI MENJADI ORANG YANG PESAKITAN DI KPK : Sosok yang dikenal sebagai politisi ulung dari Partai Golkar itu. Memiliki sejumlah jabatan mentereng di partai dan di lembaga negara. Di era Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie pria yang juga kerap disebut Setnov. Itu menduduki posisi penting di jajaran DPP. Setnov didaulat menjadi Bendahara Umum Partai Golkar.

Setnov juga terkenal lihai lolos dari jeratan kasus. Tercatat Setnov sudah beberapa kali lolos dari beberapa jeratan kasus sejak tahun 2001. Mulai dari kasus Cassie Bank Bali pada 2001. Saat itu Setnov disebut pertama kali terkait kasus hak tagih piutang Bank Bali. Yang menyebabkan kerugian negara nyaris Rp 1 triliun dari total tagihan sebesar Rp 3 triliun. Tetapi kasus ini berhenti bersamaan dengan terbitnya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) dari kejaksaan pada 18 Juni 2003.

Setnov kembali terjerat dalam kasus penyelundupan beras impor dari Vietnam sebanyak 60.000 ton pada 2010. Setnov hanya diperiksa satu kali terkait kasus ini dan dia pun menjadi tersangka. Kasus Limbah beracun di Pulau Galang Kepulauan Riau. Nama Setnov kembali disebut sebagai pemilik PT Asia Pasific Eco Lestari (APEL). Yang diduga telah menyelundupkan lebih dari 1.000 ton limbah beracun.

Kemudian pada 2012 nama Setnov kembali disebut oleh mantan Bandahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Terlibat dalam korupsi pembangunan lapangan tembak PON Riau 2012. Setnov diduga mengatur aliran dana ke anggota Komisi Olahraga DPR untuk memuluskan pencairan APBN.

Pada 2015 Setnov tersandung masalah etik karena hadir dalam kampanye capres AS Donald Trump. Setnov disebut melakukan pelanggaran etik karena dianggap memberikan dukungan politik pada Trump apalagi statusnya sebagai Ketua DPR. Setnov juga terjerat kasus dugaan pemufakatan jahat perpanjangan kontrak Freeport.

Dia diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo. Karena kasus ini Setnov mundur dari posisinya  sebgaia Ketua DPR yang kemudian kembali dijabatnya setahun kemudian. Namun tahun 2017 Setnov kembali mendapatkan kasus dan merugikan negara yaitu kasus e-KTP.

error: Content is protected !!