Slobodan Praljak Tewas Meminum Racun Sianida

Be Sociable, Share!

Jaksa Belanda mengumumkan otopsi terhadap jenazah penjahat perang Kroasia, Slobodan Praljak, telah selesai. Praljak sebelumnya diputus bersalah oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) atas tindakan pengusiran umat muslim Bosnia antara tahun 1992 hingga 1995.

Namun, persidangan yang digelar Rabu (29/11/2017) itu, terpaksa dihentikan. Hal ini disebabkan oleh aksi minum racun yang dilakukan oleh Slobodan Praljak setelah ia menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan menolak putusan yang dikeluarkan oleh ICTY. Praljak tewas beberapa menit kemudian saat dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya kandungan potasium sianida di kandungan darah Praljak. Racun ini diketahui menyebabkan kegagalan jantung yang diduga menjadi penyebab utama kematian Praljak.

Jaksa Marilyn Fikenscher mengatakan bahwa ia masih menunggu hasil akhir otopsi. Ia juga mengatakan bahwa belum dapat dipastikan apakah jenazahnya akan disimpan di unit forensik atau diserahkan kepada keluarga Praljak.

Menurut pakar kejahatan perang sekaligus pengacara internasional, Celine Bardet, kematian Slobodan Praljak menyisakan pertanyaan yang mengganjal. Yakni bagaimana caranya botol yang berisikan racun sianida tersebut bisa melewati pengamanan ruang sidang ICTY yang dikenal sangat ketat. Bardet meminta agar segera dilakukan penyelidikan terhadap hal ini. Jika tidak, maka kemungkinan besar, publik akan memunculkan dugaan adanya kongkalikong diantara sipir penjara PBB.

 

Pakar hukum internasional Universitas Amsterdam, Goran Sluiter, telah mengajukan tiga skenario bagaimana racun tersebut bisa berada di tangan Praljak. Pertama, Praljak sejak awal sudah membawa racun tersebut sejak ia ditahan pada 2004 lalu. Kedua, racun tersebut diserahkan di luar ruang pengadilan. Dan yang ketiga, sejak awal racun tersebut sudah ada di meja Praljak di dalam ruang sidang.

Dalam skenario ketiga, Sluiter mencurigai pengacara Slobodan Praljak, Nika Printer sebagai orang yang menaruh racun tersebut. Namun Pinter menyanggah dugaan tersebut. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui sama sekali bahwa kliennya akan melakukan aksi senekat itu. Pinter sangat menyangkan aksi dari kliennya tersebut. Namun ia juga menghormati Praljak. Menurut Pinter, Praljak adalah pria terhormat yang tidak sanggup menanggung malu karena dianggap sebagai penjahat perang dan dibawa ke sidang dengan tangan terborgol.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!