Strategi Disinformasi Trump via Twitter

Be Sociable, Share!

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah hampir dipastikan akan dipegang oleh Donald Trump. Namun pengusaha ini disebut masih belum melepas strategi yang dipakainya di Twitter ketika kampanye, yakni disinformasi.

Sudah bukan rahasia umum kalau Pemilihan Presiden (Pilpres) AS tahun 2016 ini benar-benar memanfaatkan media sosial. Praktis layanan seperti Facebook dan Twitter jadi alat kampanye untuk menyebarkan informasi yang menguntungkan salah satu kandidat. Masalahnya informasi yang disebar tidak selalu valid, tak sedikit informasi palsu yang sengaja dilempar ke publik dengan tujuan propaganda untuk melemahkan lawan. Trump pun menjadi kandidat yang disebut paling getol melakukan ini di Twitter.

Meski tinggal menunggu pelantikan, Trump masih terus menyebar kabar yang masuk kategori disinformasi. Baru-baru ini, Presiden terpilih AS ini melontarkan kicauan mengenai pemilih ilegal ketika pilpres berlangsung.

Berikut Tweet dari sang Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.

“Selain memenangkan Pemilihan Tinggi secara mutlak, saya memenangkan suara populer jika Anda memotong jutaan orang yang memilih secara ilegal,” cuitnya.

Tuduhan Trump terkait jutaan pemilih ilegal ini dianggap tak beralasan dan mengada-ada. Apalagi tak ada bukti yang menyertai pernyataan tersebut. Menurut studi yang dilakukan seorang profesor dari Loyola Law School, sejak tahun 2000 hanya ditemukan sebanyak 31 pemilih yang terpaksa dianggap ilegal karena berbagai alasan.

Twitter Bisa Gantikan Kantor Berita Kepresidenan

Mengacu pada laporan lembaga riset Project on Computational Propaganda, mereka menemukan sebanyak 18,9 juta kicauan dengan hashtag berbau politik sepanjang kampanye pemilihan Presiden AS berlangsung. Kicauan soal Trump paling mendominasi. Dibanding untuk Hillary, Kicauan dukungan terhadap Trump bisa empat kali lebih banyak. Gampangnya, tiap satu kicauan Hillary akan dibalas dengan empat kicauan Trump. Secara angka, kicauan soal Trump mendominasi hingga 81,9%.

Meski tak sedikit automated account atau bot yang masuk di dalamnya. Banyak yang optimis kalau Trump akan benar-benar memanfaatkan Twitter ketika dinobatkan jadi presiden nanti. Media sosial ini dianggap jauh lebih cepat dan efektif menyebarkan informasi dibanding kantor berita kepresidenan.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!