Telegram, Aplikasi Messaging Dengan Keamanan Tinggi

Be Sociable, Share!

Telegram merupakan aplikasi messaging yang diciptakan oleh Pavel Durov dan Nikolai Durov. Pavel berperan mendanai dan mengurus infrastruktur, sementara Nikolai menciptakan protokol dasar layanan. Durov bersaudara merancang Telegram sebagai layanan terbuka yang bisa digunakan di perangkat Android, iOS, Windows, maupun Ubuntu. Telegram juga dapat diakses dan digunakan langsung melalui websitenya.

Salah satu keunggulan utama Telegram adalah fitur keamanan yang sangat kuat. Telegram merupakan salah satu layanan messaging yang memiliki enkripsi yang sangat handal. Fitur keamanan yang ditawarkan ini membuat konten percakapan yang terjadi di telegram tidak dapat diintip, bahkan oleh perusahaan tersebut. Di samping enkripsi konten, Telegram memiliki fitur seperti ‘secret chat’ dan ‘destruct’ dimana isi pesan akan dihapus dalam jangka waktu yang telah ditentukan oleh pengguna.

Namun fitur keamanan ini justru menjadi penyebab Telegram sering membuat berbagai pemerintah kerepotan. Negara kelahiran Telegram sendiri, Rusia, telah mencoba beberapa kali untuk berupaya memblokir layanan tersebut. Indonesia juga dikabarkan akan segera memblokir aplikasi messaging asal Rusia ini. Pasalnya, aplikasi ini menjadi medium percakapan rahasia bagi organisasi teroris internasional di berbagai negara. Mereka menggunakan aplikasi ini dikarenakan enkripsi tingkat tinggi serta fitur – fitur keamanan yang diberikan oleh Telegram sangat ideal untuk digunakan oleh organisasi – organisasi tersebut.

Upaya Rusia dalam memblokir Telegram terlihat ketika terjadi insiden pengeboman di St. Petersburg. Otoritas Rusia menemukan bukti bahwa Telegram menjadi alat komunikasi pelaku pengeboman. Para anggota organisasi teroris internasional di wilayah Rusia diketahui menggunakan aplikasi messaging Telegram sebagai alat komunikasi mereka.

Sejumlah serangan teroris yang terjadi di Perancis juga membuat pemerintahannya memaksa para penyedia aplikasi messaging terutama Telegram untuk membuka pintu keamanannya. Menurut Menteri Dalam Negeri Perancis, Bernard Cazeneuve, seharusnya data yang ada pada aplikasi seperti Telegram harus bisa diidentifikasi dan digunakan untuk penegakan hukum.

Di negara – negara Timur Tengah, Telegram merupakan aplikasi favorit bagi banyak orang. ISIS juga sudah lama diketahui memanfaatkan Telegram sebagai jaringan komunikasi. Telegram juga sangat populer diantara penduduk Iran. Kebebasan yang dibatasi oleh pemerintahnya, membuat Telegram menjadi sebuah ruang bicara yang aman bagi mereka. Diperkirakan, ada sekitar 20 juta pengguna Telegram berasal dari Iran.

Pihak Telegram sendiri mengakui bahwa layanan miliknya kerap digunakan teroris untuk memuluskan rencananya. Pavel bahkan pernah menyebut dirinya mengetahui ISIS berkomunikasi di Telegram sebelum serangan Paris. Namun Pavel yang juga pendiri dari VK, media sosial terbesar di Eropa tetap pada pendiriannya. Menurutnya, privasi lebih penting dari kegelisahan akan terorisme.

Walaupun begitu, pihak Telegram mengatakan bahwa mereka juga aktif memblokir akun – akun yang terindikasi berafiliasi dengan ISIS maupun jaringan teroris lainnya. Pada November tahun 2015 lalu, Telegram menyebutkan bahwa pihaknya telah memblokir 78 kanal dalam 12 bahasa terkait ISIS saja.

Keputusan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga diperkirakan merupakan akibat dari adanya konten ilegal yang tesebar melalui apliaksi messaging Telegram. Walaupun hal ini dibenarkan oleh Dirjen Aptika Semuel Abrijani Pangerapan, belum ada keterangan resmi mengenai alasan sebenarnya dari pemblokiran tersebut. Melihat rekam jejak Durov bersaudara dengan sifat pemberontaknya serta tujuan Telegram dibuat, ancaman blokir dari pemerintah diperkirakan tak akan membuat Telegram bergeming agar menuruti UU ITE yang menjadi acuan pemerintah.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!