Trump Tidak Akan Mendesak Penyelidikan Skandal Email Clinton

Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, disebut tidak akan mendesak penyelidikan lebih lanjut atas skandal email rivalnya saat pemilihan umum, Hillary Clinton. Sikap Trump ini juga disyukuri oleh wakil ketua tim transisi Trump, Rudy Giuliani. Menurut Rudy, keputusan itu diambil sesuai dengan tradisi di AS, di mana setelah menang pemilu, seseorang harus mengenyampingkan pertarungan dalam kampanye.

Dalam masa kampanye, Trump kerap menggunakan isu skandal email Clinton ini untuk menjatuhkan rivalnya tersebut. Ia bahkan pernah mengatakan akan memenjarakan Hillary Clinton jika terpilih menjadi presiden Amerika Serikat kelak.

Namun, beberapa pengamat berpendapat bahwa keputusan ini dapat menjadi senjata makan tuan bagi Trump. Menurut mereka, para pendukung Trump kemungkinan akan berpikir bahwa orang yang mereka jagokan tersebut ingkar janji. Lain halnya dengan Conway yang mengatakan bahwa Clinton masih akan menghadapi ketidakpercayaan publik. Apa yang dilakukan oleh Trump ini hanya ingin membantu memulihkan hal tersebut.

Clinton sendiri pernah menuding bahwa keputusan FBI untuk meninjau kembali skandal email pribadinya hanya dua pekan menjelang pemilu merupakan salah satu penyebab kekalahannya. Keputusan ini memicu banyak pertanyaan karena diumumkan hanya berselang sepekan sebelum pemilu.

Kasus skandal penggunaan surel pribadi oleh Clinton untuk berkirim pesan pada saat menjabat sebagai Menlu AS pada periode 2009-2013 ini sebenarnya sudah ditutup pada pertengahan Juli lalu. Namun, Comey memutuskan untuk meninjau kembali skandal tersebut adanya sejumlah temuan baru dalam penyelidikan terpisah terhadap Anthony Weiner, suami dari ajudan Clinton, Huma Abedin, yang diduga melakukan pelecehan seksual melalui pesan pendek cabul kepada seorang gadis di bawah umur.

Keputusan ini memicu banyak pertanyaan karena diumumkan hanya berselang beberapa pekan sebelum pemilu. Banyak pihak, termasuk Presiden Barack Obama, mengkritik FBI karena peninjauan kembali ini berpotensi membawa dampak pada pemilu, di mana Clinton menjadi capres dari Partai Demokrat.

Kontroversi semakin mengemuka ketika FBI mengaku ragu peninjauan ini dapat selesai sebelum pemilu dilaksanakan. Pasalnya, FBI membutuhkan waktu banyak untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Setelah hasil peninjauan kembali ini akhirnya diketahui, juru bicara tim kampanye Clinton, Brian Fallon, pun angkat suara. Fallon mengatakan bahwa sejak awal pihaknya sudah yakin kasus ini sebenarnya tak perlu ditinjau kembali.

Namun, pihak rival Clinton dalam pilpres, yaitu Partai Demokrat, tetap melontarkan kritik terhadap hasil peninjauan FBI ini. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, Paul Ryan, mengatakan bahwa penggunaan akun surel pribadi Clinton tetap saja membahayakan keamanan negara.

Satu tanggapan untuk “Trump Tidak Akan Mendesak Penyelidikan Skandal Email Clinton

Komentar ditutup.

error: Content is protected !!