Aksi 112 yang Akhirnya Disepakati di Istiqlal

Aksi 112 yang Akhirnya Disepakati di Istiqlal

Aksi 112 atau 11 Februari 2017 yang digagas sejumlah kelompok keagamaan mendapat perhatian besar dari pemerintah.

“Saya mendapatkan telepon beberapa habib, beberapa ulama dan ustad yang menyampaikan kepada saya protes. ‘Bapak Panglima katanya itu acara para ulama, Saya protes bahwa saya tidak ikut (ambil bagian)’,” kata Gatot dalam konferensi pers di main hall Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 10 Februari 2017.

Gatot mengatakan mereka juga tidak mendukung aksi ini karena dinilai bermuatam politis. Dari Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir hingga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin telah mengimbau masyarakat agar tak mengikuti aksi ini. Gatot pun ikut mengimbau masyarakat agar tak ikut serta dalam aksi massa ini.

Tarik-menarik sempat mewarnai rencana aksi 11 Februari 2017. Kegiatan yang dikemas dengan jalan santai dari Monas-Bundaran Hotel Indonesia (HI) itu menuai pro dan kontra.

Polda Metro Jaya selaku penanggung jawab Ibu Kota menyatakan larangannya atas kegiatan tersebut. Kebijakan itu dikeluarkan lantaran aksi dinilai dapat mengganggu iklim Jakarta bertambah panas menjelang pagelaran pesta rakyat, Pilkada DKI 15 Februari nanti.

Bahkan Kapolda Metro Jaya M. Iriawan tidak main-main menanggapi rencana itu. Pihaknya akan membubarkan peserta aksi jika tidak mengindahkan ketentuan yang berlaku.

“Tentunya, apabila tidak mematuhi undang-undang yang berlaku, maka akan dibubarkan berdasarkan pasal yang mengatur, Pasal 15 berbunyi pelaksanaan pendapat di muka umum dapat dibubarkan apabila tidak memenuhi Pasal 6 dan 9,” ucap Iriawan di Kantor KPUD, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2017.

Sedangkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengungkapkan, pihaknya telah menerima beragam masukan dari intelijen. Ada indikasi aksi 112 dapat mengganggu kelancaran proses Pilkada DKI 2017.

“Karena itu, kalau masih ada massa yang turun aksi ke jalan, akan kami bubarkan,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Selasa (7/2/2017).

Pimpinan FPI Rizieq Shihab menegaskan tak ada pembatalan aksi 11 Februari. Namun acara yang semula diisi dengan konvoi dari Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) diubah dengan zikir di Masjid Istiqlal.

Hal ini dikatakan Rizieq usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di rumah dinas Menkopolhukam, Jakarta, Kamis 9 Februari 2017.

“Aksi 11 Februari akan tetep dilaksanakan. Tapi yang ingin ikut aksi telah mengambil inisiatif dengan memindahkan lokasi kegiatan dari Monas menjadi di Masjid Istiqlal,” ujar Rizieq.

Rizieq menambahkan, pihaknya juga membatalkan aksi pengerahan massa turun ke jalan atau long march, yang rencananya dimulai dari Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath menyatakan, pihaknya akan mendokan jika ada provokator di aksi 112 nanti agar terkena adzab.

“Nanti bagi provokator jangan coba-coba, kita doain sakit perut, gatal-gatal sama stroke. Jadi ingat yah nanti kalau ada orang yang ciri-cirinya kayak itu ketika aksi besok, itu provokator,” terang Al khaththath di Kantor Dewan Dakwah Islamiyah, Jakarta, Kamis (9/2/2017).

Al khaththath mengatakan, provokator memang dikhawatirkan datang karena pada aksi tersebut jumlah massa yang akan datang diperkirakan cukup banyak.

Sementara itu, terkait pengamanan aksi 112, FUI akan mengerahkan berbagai kesatuan laskar yang tergabung dari FUI.

“Jadi nanti keamanannya akan dijaga polisi di sekitar Istiqlal agar lebih aman ditambah dengan beberapa kelompok dari FPI, tapak suci. Pendekar Betawi dan pendekar Banten. Insya Allah jumlahnya lebih dari 10.000,” kata dia.

Aksi 112 dilakukan dilakukan di masjid istiqlal dengan acara dzikir dan tausiyah bersama.

Baca juga berita terkini lainnya di Detiktribun

error: Content is protected !!