Donald Trump Kecam Aksi Penyerangan Menggunakan Truk

Donald Trump Kecam Aksi Penyerangan Menggunakan Truk

Donald Trump Kecam Aksi Penyerangan Menggunakan Truk. Usai serangan  teror truk yang menewaskan 8 orang di wilayah New York City, Presiden Donald Trump langsung menulis melalui Twitternya mengenai peristiwa tersebut, Dirinya menulis kecaman dan tindakan sebagai aksi yang dilakukan oleh seseorang yang sakit  dan gila

Bukan hanya itu saja. Presiden Trump juga berkicau memerintahkan kepada Kementerian Dalam Negeri untuk mengaktifkan dan pengetatan program Extreme Vetting Program. Atau pemeriksaan ekstrem atau pengecekan kepada orang asing yang ingin ke  Amerika Serikat maupun yang menetap di Amerika Serikat

“Saya sudah memerintahkan kepada Keamanan Dalam Negeri, untuk meningkatkan program yang telah berjalan, yakni Extreme Vetting Program atau pemeriksaan ekstrem,” kicau Trump dalam Twitternya

Diketahui Sayfullo Habibullaevic Saipov berasal dari Uzbekistan yang melakukan teror dalam peristiwa penabrakan tersebut dilaporkan tinggal di Florida dan New Jersey secara legal

Sayfullo Habibullaevic Saipov menggunakan truk dari perusahaan penyewaan Home Depo untuk melakukan aksinya teror. Sayfullo di lumpuhkan oleh kepolisian dengan cara  ditembak yang mengenai perut pelaku. Namun setelah operasim pelaku yang berusia 29 tidak bisa bertahan dan dinyatakan meninggal dunia.

Dari laporan yang ada, Pelaku meninggalkan sebuah catatan di sebuah truk yang di pakai oleh dirinya, Sayfullo mengklaim dia melakukan serangan atas nama ISIS.

Terum pun menyebut bawah Kita semua tidak boleh untuk memberikan ruang terhadap kelompok ISIS masuk ke Wilayah Amerika Serkat. Setelah kekalahan ISIS di negara Irak yang telah di gempur oleh pasukan Gabungan antara Amerika Serikat dengan Irak

“Kita tidak boleh membiarkan ISIS kembali.  Atau masuk ke negara kami setelah mengalahkan mereka di Timur Tengah dan tempat lain,” kicau Trump.

Trump sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintahnya akan mengambil langkah untuk mencegah terroris . Untuk mencapai tujuan itu, Trump mengembangkan sistem screening pengungsi dan larangan masuk bagi warga dari negara-negara mayoritas Muslim. Trump akhirnya memodifikasi larangan tersebut dengan mengganti negara “berisiko tinggi”.

Uzbekistan, bagaimanapun, tidak termasuk dalam daftar negara yang disasar Trump.

Donald Trump sebelumnya telah berbicara tentang proses pemeriksaan ekstremnya setelah sejumlah serangan teroris besar di dunia.

“Bagaimanapun, kami akan melakukan EXTREME VETTING bagi orang yang datang ke AS untuk membantu menjaga negara kita tetap aman,” ujar Trump dalam Twitter pasca-serangan teror London pada bulan Juni. “Pengadilannya lamban dan politis!”

detiktribun

error: Content is protected !!