Grup Hate Speech Saracen Berhasil Dibongkar

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah berhasil mengungkap sindikat penebar ujaran kebencian. Sindikat yang bernama Saracen ini ternyata telah beroperasi sejak tahun 2015. Selain itu, Saracen memiliki struktur organisasi yang rapi dan sistem operasional yang apik sehingga menyulitkan penyidik. Hasil penyidikan dan penyelidikan sementara, kepolisian sudah menetapkan tiga tersangka dalam kasus sindikat penebar kebencian ini.

Hasil penyelidikan dan penyidikan dari ketiga tersangka JAS, MFT, dan SRN ini ditemukan fakta – fakta mencengangkan. Selain memiliki struktur dan operasional yang sangat rapi, tarif yang dipasang untuk sebuah pesan kebencian pun cukup tinggi. Mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Menurut Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar, anggota sindikat Saracen telah memiliki beragam konten hate speech sesuai isu yang tengah berkembang. Mereka kemudian menawarkan produk itu dalam sebuah proposal yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Namun mengenai siapa saja sasaran pasar dari konten hate speech dan SARA ini, Irwan enggan mengungkapkannya. Polisi tidak ingin berspekulasi mengenai kemungkinan adanya politikus yang menjadi pemesan konten terlarang itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, JAS berperan sebagai ketua kelompok Saracen, MFT sebagai koordinator bidang media dan informasi, dan SRN sebagai koordinator grup wilayah. JAS ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada 7 Agustus 2017. Sedangkan MFT ditangkap di kawasan Koja, Jakarta Utara pada 21 Juli 2017. Adapun, SRN ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017. Barang bukti yang disita dari JAS ada 50 SIM card berbagai operator, 5 hardisk CPU, 1 HD laptop, 4 ponsel, 5 flashdisk, dan 2 memory card. Dari MFT 1 ponsel, 1 memory card, 5 SIM card, dan 1 flashdisk. Dari SRN 1 laptop plus hardisk, 2 ponsel, 3 SIM card, dan 1 memory card.

Ada sekitar 800 ribu akun yang berkaitan dengan grup Saracen. Konten – konten kebencian dan hoax tersebar dengan begitu mudahnya di media sosial, sekalipun pembuatnya tak saling kenal. Bahkan konten hinaan terhadap Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dibuat oleh pelajar SMK bernama M Farhan Balatif (18), melalui akun Facebook bernama Ringgo Abdillah, juga tersebar di ‘pasar’ Saracen.

Terkait kasus Saracen ini, Kasubag Operasional Satgas Patroli Siber Bareskrim Polri, Ajun Komisaris Besar Susatyo Purnomo, mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya akan sebuah informasi. Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dan cerdas dalam menerima berita yang tersebar di media sosial. Terutama yang mengandung unsur – unsur provokatif seperti isu yang menyangkut SARA.

error: Content is protected !!