Ini Racun yang Digunakan untuk Habisi Kim Jong-nam

Ini Racun yang Digunakan untuk Habisi Kim Jong-nam

Otoritas Malaysia menyatakan telah berhasil merampungkan proses autopsi Kim Jong-nam. Dalam autopsi itu otoritas Malaysia mengaku telah mengetahui racun yang digunakan untuk menghabisi kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un tersebut.

Melansir Strait Times pada Kamis (16/2), seorang sumber di otoritas Malaysia menyebut, racun yang kemungkinan digunakan untuk membunuh Jong-nam adalah risin. Risin adalah zat kimia mematikan yang ditemukan dalam biji tanaman minyak jarak atau tetrodotoxin, yang biasa digunakan untuk meracun ikan.

Tetrodotoxin dikenal karena kemampuannya untuk melumpuhkan dan membunuh korban dengan cukup cepat.

Menurut Pemerhati neurosains dan biosecurity, Wawan Mulyawan, gejala biasanya berkembang dalam waktu sekitar 30 menit sejak menelan racun, namun akan jauh lebih cepat jika disuntikkan atau dihirup. Dengan dosis letal atau mematikan, gejala biasanya muncul dalam belasan menit sejak menelan racun dan hanya hitungan beberapa menit saja jika dihirup.

“Rasa kesemutan atau nyeri di daerah yang disemprotkan atau di saluran napas dan hidung atau mulut yang diikuti rasa kesemutan atau nyeri pada seluruh tubuh. Banyak memproduksi ludah, berkeringat, sakit kepala, rasa lemah lesu, tangan dan kaki bergoyang (tremor), sampai kelumpuhan-kelumpuhan, sianosis, kejang, dan kematian pada akhirnya,” kata Wawan, yang juga menjabat sebagai Scientific Committee Member dari GHSA-ICMM TTX on Biosecurity 2017.

Ia mengatakan, kematian biasanya cepat terjadi karena ketidakmampuan korban untuk bernapas, karena otot-otot pernapasan telah lumpuh. Tragisnya, meskipun benar-benar lumpuh, korban keracunan tetrodotoxin mungkin akan tetap sadar sesaat sebelum kematiannya.

Menurut Wawan, tetrodotoksin adalah racun yang dapat melumpuhkan saraf. Racun ini akan memblokade aliran ion natrium (Na+) ke dalam sel saraf, sehingga saraf tidak bisa menghantarkan aliran listrik sarafnya dan kemudian menyebabkan lumpuh saraf.

Akibat saraf lumpuh, maka otot-otot, mau pun saraf perasa dan saraf otonom (misalnya saraf yang mengatur kencing dan buang air besar) akan lumpuh juga. Jika racun mengenai otot pernapasan, maka korban tidak akan mampu bernapas.

“Jika mengenai otot jantung, akan membuat jantung berhenti. Jika mengenai kulit, akan membuat mati rasa atau kesemutan. Jika mengenai saraf buang air kecil, dan besar akan menjadi inkontinensia (tidak mampu mengontrol BAB/BAK), dan lain-lain,” ungkap dia.

Wawan menjelaskan, hingga saat ini belum ada obat penawar yang ditemukan dan disetujui untuk digunakan pada manusia terkait racun tetrodotoxin. Beberapa penelitian di tingkat laboratorium melihat peluang antibody monoclonal spesifik yang mungkin digunakan sebagai penawar, namun belum memberikan hasil yang menggembirakan.

“Dengan demikian, jika menyebabkan gagal napas, maka obatnya adalah masuk ICU dan dipasang alat bantu napas permanen sampai efek racun hilang dengan sendirinya. Ini pun jika tidak merusak sel saraf yang ada di organ tubuh yang lain,” jelasnya.

Pembunuhan dengan menggunakan racun adalah metode kuno yang masih digunakan oleh mata-mata Rusia dan Korut hingga saat ini. Risin, bersama dengan arsenik dan Sianida adalah pilihan favorit para mata-mata itu untuk melakukan pembunuhan dengan racun.

Terlebih rekaman CCTV bandara, seperti dilaporkan media lokal New Straits Times (NST), menunjukkan Jong-Nam disergap oleh dua perempuan. Satu dari depan yang berusaha mengalihkan perhatian dan satu lagi berdiri yang di belakangnya, mengaitkan lengan ke leher Jong-Nam untuk memasukkan racun.

Serangan itu, disebut NST, berlangsung hanya dalam waktu 5 detik. Adegan CCTV selanjutnya menunjukkan Jong-Nam bergegas ke toilet dan mendatangi meja informasi untuk minta bantuan sebelum akhirnya dibawa ke klinik bandara. CCTV juga menunjukkan Jong-Nam tergolek tak berdaya di kursi klinik. Matanya terpejam dan wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan. Dia menghembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan ke rumah sakit.

Sebelumnya, Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menyatakan mereka menduga dua wanita yang melakukan pembunuhan terhadap Jong-nam adalah mata-mata Korut. Salah satu wanita yang melakukan pembunuhan terhadap Jong-nam adalah warga negara Indonesia (WNI).

Meskipun bentuk dan isi semprotan beracun itu belum diketahui secara jelas. Namun diketahui bahwa rezim Korut dalam operasi rahasianya, sebut The Korea Herald, lebih suka menggunakan senjata kecil, semacam pena, yang diisi neostigmine bromide — sejenis obat anestesi. Obat itu disebut memiliki efek lima kali lebih kuat dari racun mematikan potassium sianida.

”Jika pembunuhan Kim Jong-nam dikonfirmasi dilakukan oleh rezim Korut, yang jelas ini akan menggambarkan kebrutalan dan kebiadaban rezim Kim Jong-un,” kata Perdana Menteri Korsel Hwang Kyo-ahn.

Baca juga berita terkini lainnya di Detiktribun

error: Content is protected !!