Sri Mulyani Dinobatkan Sebagai Menteri Keuangan Terbaik Se-ASEAN & Se-Asia

Majalah Finance Asia menobatkan Menteri Keuangan (Menkeu) Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, sebagai Menteri Keuangan terbaik di kawasan ASEAN dan kawasan Asia. Keberhasilannya dalam mengatur ekonomi Indonesia dinilai membuat wanita yang akrab disapa Ani ini dianggap telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Indonesia.

Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia pada tahun 2010. Ia akhirnya kembali ke Indonesia setelah dipanggil kembali oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2016. Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro sejak 27 Juli 2016.

Finance Asia menilai, Sri Mulyani tidak membuang-buang waktu saat mulai menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia langsung memaksakan gayanya dan menggunakan kewenangannya sebagai Menteri Keuangan tanpa ragu – ragu dalam mengerjakan tugasnya di Kemenkeu. Hal inilah yang membuat Finance Asia menilai Sri Mulyani sebagai Finance Minister Of The Year.

Sebagai tambahan informasi, majalah Finance Asia meraih ketenarannya setelah menobatkan Perdana Menteri yang merangkap Menteri Keuangan Malaysia, Najib Razak, sebagai yang terburuk di kawasan ASEAN tahun lalu. Hal ini tentunya memicu beragam komentar di media sosial Malaysia. Bahkan Pemerintah Malaysia pun mengkritik penobatan Perdana Menterinya tersebut. Tahun ini, Najib hanya naik satu tingkat lebih tinggi di peringkat Asia yang pada tahun lalu menduduki peringkat ke-12 di Asia.

Saat menjabat sebagai Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati menjadi wanita paling senior yang pernah menjabati posisi tersebut. Ia mampu menyatukan ide-ide terbaik dari 188 negara anggota Bank Dunia untuk mencapai sebuah tujuan yakni mengakhiri kemiskinan ekstrim dan mempromosikan kemakmuran di seluruh dunia.

Sebagai salah seorang senior di bidang finance, dengan berbagai pencapaiannya, ia patut menjadi sosok yang layak dihormati di wilayah ini. Dalam sebuah makalah yang terbit beberapa saat lalu, Sri Mulyani mempunyai perhatian khusus mengenai kesetaraan gender. Menurut makalah tersebut, secara global, partisipasi angkatan kerja perempuan telah mengalami stagnasi atau dapat dibilang telah mengalami penurunan.

Wanita kini hanya mempunyai peluang 50 % untuk memiliki pekerjaan penuh waktu dengan upah yang layak. Wanita juga mendapatkan penghasilan yang lebih rendah dari laki – laki. Perbedaan ini bisa mencapai sepertiga dari penghasilan laki – laki. Kesenjangan yang terjadi pada angkatan kerja perempuan ini, diestimasikan telah membuat kerugian pendapatan yang setara dengan seperempat dari PDB di Timur Tengah dan sekitar 14 % di Amerika Latin.

Berdasarkan studi global, Sri Mulyani juga mencatat bahwa ketika perusahaan yang mempunyai pemimpin perempuan, perusahaan ini cenderung akan terlibat dalam skandal atau penipuan. Tentu saja perkataan yang keluar dari seorang eksekutif wanita yang pernah menduduki salah satu kursi puncak Bank Dunia ini membawa tekanan tersendiri bagi dunia.

error: Content is protected !!